James Yee Ulama Militer (Chaplain) Korban Paranoid Amerika




Ingin mengabdi kepada negaranya mengantarkan drinya masuk Army Chaplain Corps (Korps Ulama Angkatan Darat AS) sebagai salah seorang ulama militer Muslim. Namun sayang cinta dan pengabdiannya terhadap Tuhan dan Amerika malah memenjarakannya. 

Buku ini mengungkap kisah sisi gelap perang terhadap terorisme berlebihan tanpa aturan yang menebar bahaya dan mengakibatkan pahlawan sejati berjiwa patriot yang harusnya diberi pengharagaan atas jasa-jasanya malah dipenjarakan dan diperlakukan layaknya musuh. Sedikit aneh memang! Amerika hari ini yang menjadi pusat peradaban dunia ternyata masih belum bisa sepenuhnya membedakan  patriot sejati dan teroris yang sebenarnya. Reputasi sebagai negara hukum pastinya tercoreng dengan kisah Kapten Yee.

Amerika masih belum bisa membedakan seratus persen perang melawan terorisme bukanlah perang terhadap Islam, namun sepertinya stigma Islam sangat melekat dengan teroris, saat menyebut Islam seperti satu paket dengan terorisme untuk sebagian orang Amerika. Padahal harusnya semua orang pasti menyadari bahwa agama apapun bentuknya pastilah sebagai pembawa cahaya untuk perdamaian.

Amerika menjanjikan kesempatan yang sama pada semua orang untuk mendapatkan kehidupan yang luar biasa, tanpa memandang siapa dan darimana mereka berasal. Sungguh idealisme yang sangat luar biasa siapapun yang mendengarnya pasti akan membuat siapapun akan mengatakan woow! termasuk saya.

Istilah ulama militer (chaplain) membuat saya bingung karena kita mendengar istilah ulama jarang sekali berkaitan dengan dunia militer, istilah lain untuk ulama militer di Amerika. Peran dan tugas ulama dalam kemiliteran adalah untuk menyebarkan gagasan akan perbedaan, mengakui nilai-nilai perbedaan serta melayani kebutuhan spiritual tahanan dan hal itulah yang membuat James Yee, Penulis buku ini memilih karier ini yang membuatnya dijuluki 'Taliban Cina'.

Pendidikan yang diterimanya di West Point, akademi militer yang paling bergengsi di Amerika Serikat. Memeluk Islam saat berumur dua puluh tiga tahun, dengan pengetahuan Islam yang dimilikinya Yee mantap menjalankan keyakinannya. Mengetahui Yee menjadi seorang Muslim dan melihat Yee keturunan Asia membuat dia dianggap sebagai imigran yang datang ke Amerika Serikat padahal dia berpikir sebaliknya. West Point adalah tempat sebuah dunia dimana beberapa pemimpin terbaik Amerika dididik, berjalan di kampus yang sama dan ambil bagian dalam tradisi yang diwariskan membuatnya terus semangat dalam menyelesaikan studinya. Semua hal ini masih membuat mereka tidak peduli dan mempertimbangkan bahwaYee adalah warga Amerika yang setia.

Enam bulan setelah kejadian 11 September tepatnya bulan Maret Kapten Yee mendapat tawaran untuk ditugaskan pada Kamp X-Ray di Teluk Guantanamo, Kuba. Yee bahkan tidak tahu menahu keberadaan pusat penawanan tersangka teroris yang baru saja dioperasikan selama tiga bulan itu. Kemudian tanggal 19 September 2002 panggilan tugasnya datang kemudian Yee bertugas disana selama enam bulan.

Yee sama sekali tidak sabar memulai tugasnya di Guantanamo dalam pikirannya ini salah satu bentuk pengorbanan yang dilakukan untuk mengabdi kepada negaranya dari yang di dengar ini merupakan petunjuk penting atas serangan teroris yang terjadi dan seluruh tawanan yang ada di penjara tersebut beragama Islam. Saat itu terdapat sekitar 300 orang tahanan yang berasal dari 33 negara. Kebanyakan para petinggi militer di Guantanamo disana memiliki pemahaman Islam yang sangat dangkal padahal keharusan untuk mengerti dan memahami hal ini merupakan terpenting agar misi bisa berjalan suskses. Dan meyakini dirinya akan bisa sebagai jembatan dari dua jurang terpisah dan berusaha membantu agar situasi di sana bisa menjadi lebih baik.

Kemudian 10 September 2003 mereka menahan James Yee dengan tuduhan dan kecurigaan yang tidak beralasan yang mengubah jalan hidupnya, menghancurkan keluarganya, dan merusak kariernya di kemiliteran. Dia ditangkap saat membawanya kembali ke Amerika. Badan Investigasi Kriminal Angkatan Laut menagkap dan membawanya ke rumah sakit militer yang terletak di pangkalan laut Jacksonville. Kedua tangannya di borgol di belakang punggung dan dan kedua kakinya dirantai. Saat proses penangkapan itu dia tidak melakukan protes. Kemudian beberapa saat dia menyadari bahwa di hanya salah satu korban yang dikait-kaitkan dengan pelaku pembajakan pesawat pada serangan 11 September. Lalu mereka membawanya menuju penjara pelabuhan angkatan laut, mereka terus bertanya apakah dia membawa dokumen-dokumen berharga yang di yakini sama sekali tidak ada. Yang paling fatal saat membaca Memorandum Jenderal Miller memuat semua akibat perbuatan yang dituduhkan, dia dicurigai melakukan beberapa pengintaian yang secara serius dijatuhi hukuman mati.

Saat di dalam tahanan mereka memperlakukan Yee dengan sangat keras terutama yang berasal dari kesatuan marinir. Mereka tidak mengizinkannya menonton berita ataupun membaca koran namun hal ini lebih ringan daripada yang dilakukan Polisi militer di Penjara Guantanamo yang sering menggunakan lembaran Alquran untuk membersihkan lantai pelecehan terhdap kitab suci umat Islam membuatnya sangat sedih dan terluka saat ia pribadi berjuang untuk melawan teror dalam setiap tugas yang dijalaninya. Dan tepat pada 20 September mereka memberitakan penahanannya dan sontak orang-orang diseluruh dunia mengetahui bahwa dirinya adalah seorang teroris dan mata-mata.

Islam secara sistematis digunakan sebagai senjata untuk menyerang para tawanan. Kebanyakan dari keluhan-keluhan tersebut dipublikasikan meskipun demikian para pejabat militer tidak mengakui kekejaman yang dilakukan terhadap para tawanan tersebut, pihak militer solah-olah menutupi informasi yang sebenarnya. Sebagian besar publik percaya pada juru bicara pemerintah, dan mengabaikan pernyataan-pernyataan mendetail tentang penyiksaan dan perlakuan kejam terhadap para tawanan. Kritik terhadap pemerintah dari beberapa prajurit dianggap sebagai bukti sikap ketidakpatriotikan.

Sejak penangkapan Kapten James Yee tidak ada ulama militer Muslim yang ditempatkan di Kamp Delta (kamp tentara yang terkenal sentimen terhdap Islam). Semua ulama militer disana beragama Kristen, dan tidak seorang pun yang bertanggung jawab untuk memberikan dukungan kepada para tawanan. Menurutnya semua penderitaan yang dialaminya merupakan bagian kecil dari kelemahan kepemimpinan.

James dalam penutup buku ini menyatakan ketakutannya bahwa semua yang dialaminya hanya dikarenakan bahwa dirinya adalah salah satu dari 'mereka'--seorang Muslim. Mereka sama sekali tidak mempertimbangkan bahwa james adalah seorang warga negara, prajurit militer dan seorang patriot. Tapi dalam tatapan kecurigaan, dia hanya minoritas sesaat yang tidak memiliki hubungan inklusif dengan pemerintahan nasional Amerika dan dirinya hanyalah seorang Muslim.


Post a Comment

3 Comments