Surat Sayyidina Ali kepada Anaknya Sayyidina Al-Hasan

Kebiasaan pagi selepas sholat Subuh biasanya saya selalu menyempatkan diri membuka Youtube dan mendengarkan podcast informatif tentang kajian-kajian Islam. 

Setelah dewasa saya memang tidak lagi setiap hari harus mencari guru ngaji dengan menenteng Al-qur'an  ditangan, menunggu hingga tengah malam untuk di simak. Aktivitas mengaji bisa dilakukan dimana saja dengan bermodal gadget dan kuota internet. Saya merasa bahagia karna akses informasi sangat mudah sehingga kita bisa secara leluasa menemukan tulisan para ulama, sejarah perjalanan para nabi, buku-buku cendikiawan muda Muslim terbaru hingga tidak jarang sampai ke kanal Youtube mereka. Pilihan literatur Islam saat ini sangat variatif.

Prof. Quraish
Sejak lama saya sering mengikuti kajian dari Prof. Quraish Shihab atau akrab disapa Abi Quraish. Awal mendengar nama beliau dari salah satu program Tafsir Al-Misbah di Metro TV yang tayang setiap bulan Ramadhan. Acara ini membawa saya lebih jauh mencari tau tentang perjalanan beliau sebagai seorang ulama, ahli tafsir dan tentunya cendikiawan Muslim terkemuka. Beliau membuat saya semakin bersemangat untuk belajar Islam lebih jauh. 

Podcast yang saya dengar hari ini berjudul "Nasihat Kehidupan Sayyidina Ali". Mendengar nama Ali dibahas membuat saya sangat penasaran untuk segera mendengar podcast ini. "Jika aku adalah pintunya ilmu maka Ali adalah kuncinya" teringat kata seorang sahabat mengutip sebuah hadist saat kami berdiskusi ringan membahas Syiah dan Sunni.

23: 29 detik tanpa jeda saya khusyuk mendengar Prof. Quraish yang bercerita sedang menuyusun sebuah buku, dan di dalamnya ada surat Sayyidina Ali kepada anaknya yang ditulis setelah kembali dari Perang Shiffin ( 657 M perang antara laskar Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan di zaman khalifah Ustman bin' Affan). "Indah sekali saya sudah coba terjemahkan tapi bahasanya terlalu indah sampai saya koreksi berkali-kali." Gumam beliau dengan penekanan nada cukup panjang. Saya merasa sangat tersentuh dan takjub mendengar isi surat tersebut sampai-sampai  meneteskan air mata. Andai ayah saya masih ada dia pasti akan membacakan surat Ali secara langsung kepada saya.

Berikut penggalan surat Sayyidina Ali kepada anaknya Sayyidina Al-Hasan yang dibacakan oleh Prof. Quraish Shihab:

Saya adalah seorang ayah yang pasti berakhir wujudnya di dunia ini. Tidak lama lagi akan mati dan pasti mati. Saya tadinya berkesimpulan bahwa saya tidak mau memperhatikan selain diri saya tetapi tidak lama kemudian saya sadar bahwa engkau wahai anakku adalah diriku. Jadi saya harus mengingat engkau. Saya harus memperhatikan engkau. Saya tidak bisa hanya memikirkan diriku karena saya melihat engkau adalah diriku..

----
Wahai anakku, hidupkanlah dirimu dengan nasihat. Padamkanah nafsumu itu dengan zuhud kekuatan dan keyakinan. Terangilah hatimu dengan hikmah dan selalu ingat kematian dalam segala aktivitasmu. Jika bertemu kawanmu, tunjukan padanya aneka petaka yang serba dadakan di dunia. Peringatkan padanya, bahwa keburukan akan terjadi pada pergantian siang dan malam. Ingatkanlah hatimu!

----
Tunjukkan, peringatkan ia dengan pergolakan masa dan keburukan yang terjadi pada pergantian malam dan siang. Paparkan ke benakmu sejarah generasi masa lalu dan ingatkan juga benakmu tentang apa yang menimpa orang-orang sebelummu. Jelajahilah pemukiman dan peninggalan mereka lalu renungkanlah apa yang telah mereka lakukan, dari mana mereka datang lalu kemana mereka berpindah dan dimana kemudian mereka akan tinggal menetap.

Engkau akan menemukan mereka meninggalkan kekasih dan bermukim di negeri yang asing bagi mereka dan engkau seakan-akan tidak lama lagi akan menjadi seperti salah seorang dari mereka itu. Maka karena itu perbaikilah tempat tinggalmu, jangan menjual akhiratmu dengan duniamu dan hindari berucap menyangkut apa yang tidak engkau ketahui atau berbicara menyangkut yang bukan urusanmu.
-----
Jangan ikuti satu jalan jika engkau takut tersesat bila menelusurinya karena berhenti pada kebingungan tersesat lebih baik daripada mengarungi bahaya kesesatan. Ketahuilah wahai anakku, bahwa yang paling kusukai untuk engkau amalku dari wasiatku ini adalah bertakwa kepada Allah dan membatasi diri mengamalkan apa yang diwajibkan atasmu serta meneladani leluhurmu dan orang-orang yang shaleh dari keluargamu. 

----
Mereka itu tidak mengabaikan renungan tentang diri mereka sebagaimana engkau berpotensi merenung dan mereka berpikir sebagaimana engkau berpotensi untuk berpikir, lalu pada akhirnya mereka mengamalkan apa yang mereka ketahui dan mengabaikan untuk memikirkan apa yang tidak dibebankan atas mereka.

Seandainya jiwamu enggan menerima begitu saja apa yang mereka ketahui sebelum engkau mengetahuinya melalui cara mereka tahu (pikirkan) maka hendaklah engkau mempelajarinya dengan tekun dan seksama tapi bukan untuk tujuan berbantah-bantahan. 

----
Hai anakku, jadikanlah dirimu neraca antara dirimu dengan selainmu. Karena itu sukailah untuk orang lain apa yang engkau sukai buat dirimu dan bencilah untuknya apa yang engkau benci. Jangan menganiaya orang lain sebagaimana engkau enggan dianiaya dan berbuat baiklah sebagaimana engkau senang diperlakukan dengan baik. Anggap buruklah apa yang terdapat pada dirimu yang engkau anggap buruk disandang oleh orang lain.
Puaslah atas apa yang engkau terima dari orang lain sebagaimana kepuasanmu memberi untuk orang lain.
----
Jangan mengucapkan apa yang engkau tidak ketahui walau pengetahuanmu sedikit. Jangan juga mengucapkan sesuatu yang engkau tidak senang orang lain mengucapkannya kepadamu. Ketahuilah bahwa kebanggaan yang tidak berdasar pada diri sendiri merupakan lawan dari kebenaran serta penyakit yang menimpa pemikiran yang jernih.
-----
Nafkahkan hasil usahamu dan jangan jadi penyimpan untuk orang lain. Kemudian jika engkau telah menerima hidayat menuju kebenaran maka hendaklah engkau menjadi orang yang paling khusyuk dan patuh kepada Tuhanmu. Ketahuilah bahwa dihadapanmu ada jalan yang berjarak sangat jauh dan kesulitan yang sangat berat sehingga engkau harus pandai-pandai menempuh jalan dengan benar dan pandai-pandai juga mengukur kadar bekalmu.
----
Jangan terlalu membawa banyak agar engkau sampai ke tujuan. Jangan sampai bekal itu memberatkanmu sehingga mengakibatkan bencana atas dirimu. Apabila engkau mendapati seorang butuh dan bersedia memikul denganmu menuju hari kiamat untuk kemudian dia menyerahkan kepadamu maka sambutlah keinginannya.
-----
Gunakanlah kesempatan mengutangi siapa yang meminta diberi hutang pada saat engkau mampu agar dia dapat mengembalikan hutangnya saat krisis menimpamu. Ketahuilah bahwa di hadapanmu terdapat jalan yang mendaki yang sulit yang tidak ringan bebannya.
-----
Ketahuilah bahwa penguasa perbendaharaan langit dan bumi yakni Allah Swt mengizinkanmu untuk berdoa dan menjamin untuk mengabulkannya. Dia tidak menjadikan antara engkau dengan Dia Yang Mahakuasa itu. Siapapun yang menghalangimu tidak juga menjadikan (penghalang) antara engkau dengan Dia  seseorang yang engkau mintai pertolongan untuk mendoakanmu. Dia tidak menghalangimu untuk bertobat dia tidak mengejek dan mengecammu jika engkau kembali kepada-Nya. Dia juga tidak bergegas menjatuhkan siksa sebagaimana Dia tidak mempermalukanmu di saat engkau berpotensi untuk dipermalukan.
-----
Ketahuilah wahai anakku bahwa engkau diciptakan untuk berlanjut hidupmu hingga akhirat bukan sekadar di dunia. Engkau diciptakan di dunia ini untuk punah bukan untuk kekal. Untuk mati, bukan untuk hidup langgeng disini dan sungguh engkau bertempat tinggal di suatu tempat yang mengharuskanmu berpindah ke akhirat. Engkau dikejar oleh maut yang tidak seorangpun berhasil luput dari kejarannya sehingga pasti semua terkejar olehnya. Karena itu, hati-hatilah. Jangan sampai engkau terkejar olehnya dalam keadaan yang pernah suatu ketika terbetik keinginanmu untuk bertaubat tetapi ada aral yang merintangi engkau dengan keinginanmu itu lalu tiba-tiba maut datang merenggut nyawamu, sehingga engkau tidak sempat bertaubat. 
-----
Sebentar lagi akan tersingkap kegelapan, para musafirpun segera akan tiba, ketahuilah wahai anakku bahwa siapa yang kendaraannya adalah malam dan siang, maka pasti malam dan siang itu akan membawanya walau ia menetap tanpa bergerak. Dan pasti juga jarak betapapun jauhnya akan ditempuhnya walau dia diam dengan tenang.
----
Ketahuilah dengan penuh keyakinan bahwa engkau tidak akan mencapai seluruh harapanmu. Temanilah orang-orang baik, engkau menjadi bagian dari mereka dan hindari serta berbedalah dengan orang-orang buruk, engkau berbeda dengan mereka. Seburuk-buruk makanan adalah yang haram. Seburuk-buruk penganiayaan adalah menganiaya yang lemah. Penggunaan kelemah lembutan jika bukan pada tempatnya, menambah kekerasan. Sedang bersikap tegas pada tempatnya melahirkan kelemah lembutan. Bisa jadi yang dianggap obat adalah penyakit dan yang dianggap penyakit adalah obat. Bisa jadi yang memberi nasehat adalah orang yang tidak wajar memberinya dan bisa jadi juga yang dimintai nasehat justru menjerumuskan. Jangan sekali-kali mengandalkan angan-angan kosong karena ia adalah sikap si picik.
----
Kecerdasan adalah memelihara pengalaman dan sebaik-baik pengalamanmu adalah yang menasehatimu. Gunakan kesempatan sebelum terlambat, tidak semua yang mencari menemukan apa yang dicarinya. Tidak juga yang pergi akan kembali, termasuk bagian dari keburukan adalah menyia-nyiakan bekal dan memperburuk masa depan. Segala sesuatu ada akhirnya dan pasti akan datang menemuimu apa yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pedagang itu berspekulasi, bisa jadi yang sedikit lebih berkembang daripada yang banyak. Tidak ada baiknya seorang penolong yang hina atau menghina, tidak juga teman yang kikir atau berburuk sangka. Ambil dari perjalanan masa kini apa yang dipersembahkan kepadamu, jangan berlalu terlalu berani mengorbankan sesuatu dengan mengharapkan perolehan yang lebih banyak.
 -----
Jangan mengendarai perdebatan karena dia dapat menjerumuskanmu. Pertahankanlah jaringan hubungan dengan saudara dan temanmu saat dia memutus hubungan denganmu dan teruslah berbuat baik kepadanya kendati dia menolakmu. Mendekatlah kendati dia menjauh. Berilah kendati dia kikir. Berlemah lembutlah kendati dia kasar. Carilah alasan pembenaran kendati dia bersalah. Lakukan itu seakan-akan engkau hambanya dan seakan-akan dia adalah pemberi nikmat kepadamu. Tetapi hati-hati, jangan letakkan itu bukan pada tempatnya atau melakukannya bukan pada sosok yang wajar menerimanya. Jangan sekali-kali menjadikan musuh sahabatmu sebagai sahabat karena itu berarti engkau memusuhi sahabatmu. 
-----
Tuluslah menasehati saudara atau temanmu baik itu bermanfaat untukmu maupun merugikanmu. Pendamlah amarah. Aku tidak pernah melihat sesuatu yang dipendam lebih manis, tidak juga lebih baik dampaknya sebagaimana memendam amarah. Bersikap lemah lembutlah kepada yang kasar kepadamu niscaya segera dia akan bersikap baik kepadamu. Perlakukanlah musuhmu dengan baik karena itu adalah kemenangan terbaik dari dua kemenangan. Apabilah engkau bermaksud memutus hubungan dengan seseorang maka simpan sedikit peluang di dalam hatimu siapa tahu suatu ketika dia berniat memperbaiki diri. Dan siapa yang menilaimu baik, maka benarkan penilaiannya yakni buktikan. 
-----
Jangan sekali-kali mengabaikan hak temanmu dengan ber-andalkan dengan hubungan baikmu dengannya, karena siapa yang engkau abaikan haknya, maka ia tidak lagi menjadi temanmu. Jangan sampai keluarga menjadi orang yang paling sengsara karena ulahmu, jangan juga mengharap dari siapa yang tidak menyenangimu. Jangan sekali-kali temanmu lebih kuat tekadnya untuk memutuskan hubungan daripada tekadmu untuk menjalin hubungan baik, jangan juga dorongan untuk berbuat baik lebih kuat dalam dirimu daripada dorongan berbuat baik orang lain. 
-----
Jangan memperbesar dalam hatimu kezaliman orang lain terhadap dirimu dengan membalas kezaliman itu. Sesungguhnya sikapnya itu (yang menzalimi) merugikan dirinya dan menguntungkan kamu. Balasan orang yang berbuat baik bukanlah dengan berbuat jahat kepadanya. Boleh jadi ada yang jauh tapi lebih dekat daripada yang dekat, dan boleh jadi ada yang dekat tapi lebih jauh daripada yang jauh. Bisa jadi keputusasaan  untuk mencapai sesuatu merupakan pencapaian. 
----
Tanyakanlah tentang  teman yang menemanimu dalam perjalanan sebelum bertanya kemana akan pergi dan utamakanlah tetangga sebelum rumah kediamanmu. Hindari mengucapkan sesuatu yang menertawakan walau itu bersumber dari orang lain. Hormatilah keluarga besarmu karena mereka sayap yang membawamu terbang dan merekalah asal usulmu yang engkau berakhir pada mereka dan 
mereka juga tangan yang engkau gunakan berjuang.
-----
Akhirnya, aku menitipkan agama dan duniamu kepada Allah. Aku bermohon sebaik-baik ketetapan-Nya untukmu di masa datang  yang dekat maupun masa datang yang jauh, di dunia dan di akhirat.

Wassalam.”


Post a Comment

2 Comments