Menjelang
akhir tahun bersyukur kepada Tuhan saya
mendapat kesempatan kembali belajar di kelas. Setelah lulus hampir empat tahun
lamanya, saya kembali merasakan dinginnya AC ruangan kelas, hangatnya teman-teman
dan tentunya dengan setumpuk tugas-tugas yang menyita waktu akhir pekan. Sangat
bahagia kembali menjadi murid karena tahun lalu saya seorang guru dan tahun ini
menjadi murid so it’s switch! Sebenarnya
sebutannya itu trainee tapi saya
lebih suka menyebutnya murid.
Anggap saja mengulang kembali masa-masa
kuliah hanya bedanya kami tidak dapat ijazah universitas melainkan sertifikat
IELTS karena sudah belajar intensif selama 3 bulan. Pertanyaannya setelah dapet
sertifikat IELTS terus mau ngapain? Pasti jawabannya sudah bisa ditebak“IKUT MELAMAR BEASISWA” tapi jangan
lupa score-nya harus memenuhi standar
beasiswa yang diinginkan.
Sebelum ke tips and tricks, saya jelaskan sedikit tentang program ini. English
Language Training Assistance (ELTA) merupakan program bantuan belajar
yang dirancang untuk mereka yang ingin melamar beasiswa Australia Awards yang
belum mampu memenuhi syarat minimal Bahasa Inggris yang ditetapkan. Syarat
untuk mendaftar Beasiswa Australia Awards adalah memiliki skor IELTS di atas
5.0 atau TOEFL ITP atau di atas 500. ELTA merupakan beasiswa dari pemerintah
Australia bekerja sama dengan Australia Awards Indonesia dan IALF Bali sebagai
penyelenggara untuk membantu pelamar beasiswa mencapai skor IELTS di atas 5.0.
Beasiswa ini terbuka bagi mereka dengan skor IELTS 4.5 – 5.0 atau setara. Penyandang
disabilitas juga memiliki kesempatan untuk mengikuti program ini. ELTA tidak
mewajibkan lulusannya untuk harus melamar beasiswa AAS. Mereka diberi kebebasan
mencoba berbagai jenis beasiswa yang lain seperti Fulbright, LPDP, Erasmus
Mundus, Chevening, StuNed (Studeren in Nederland) dll.
Program
ini intensif selama 12 minggu penuh. Peserta ELTA diberikan materi belajar
IELTS (Reading, Listening, Speaking
dan Writing) dan semua peserta
diharapkan mampu menguasai empat skills
ini. Tidak tanggung-tanggung, semua tenaga pengajarnya merupakan AAS Awardee, jadi jam terbang tidak perlu diragukan. Trust me they are experts! Mendengar
cerita dan pengalaman mereka secara langsung membuat saya semakin bersemangat
dan mimpi terasa nyata. Ilmu, jaringan, cerita, teman dan uang jajan semua bisa
kita dapatkan di program ini.
It’s
a golden opportunity as a stepping stone to continue your future study.
Jangan ragu siapkan diri tahun depan kalian harus ikut program ini! Syarat dan
ketentuan mendaftar bisa di cek di website AAI.
![]() |
| Credit to : ELTA NTB 2019 WA Group |
Tips
& Tricks Melamar ELTA
Saya
mendengar informasi tentang ELTA pada tahun 2016 dan infonya saya dapatkan dari
seorang teman. Saya mengunduh form aplikasi pada website AAI dan mengisi syarat
dan ketentuannya. Sekitar dua minggu sebelum penutupan saya kirim berkas
applikasi dan menunggu pengumuman via e-mail. Saat mengisi aplikasi kandidat
diwajibkan untuk melampirkan curriculum vitae (CV) bisa dalam Bahasa Inggris
atau dalam Bahasa Indonesia, yang terpenting CV wajib sesuai dengan jurusan
yang akan ditempuh di jenjang S-2 terutama pekerjaan harus sesuai dengan future study yang akan diambil.
Jika
seleksi berkas lolos kandidat harus mengikuti tes tahap kedua yakni tes tulis.
Di sini ada tiga tes yang akan diberikan pertama tes structure, tes kedua
menulis essai dalam Bahasa Inggris sesuai topik yang diberikan dan ketiga tes
potensi akademik. Kemampuan Bahasa Inggris kalian akan terlihat jelas setelah
melewati tes kedua ini. Di sinilah kalian akan diberikan notifikasi, apakah
kandidat memenuhi standar Bahasa Inggris yang diinginkan program ini.
- Overqualified: Ini merupakan informasi bahwa Bahasa Inggris kandidat sudah memenuhi standar untuk melamar AAS tanpa perlu mengikuti program ELTA (tidak diterima karena nilai Bahasa Inggrisnya sudah cukup).
- Pass: Kandidat dinyatakan lolos untuk menuju tahap selanjutnya karena nilai Bahasa Inggris memenuhi target yang diinginkan ELTA di kisaran 4. 5-5.0.
- Underqulified: Ini cukup menyedihkan karena bisa dipastikan nilai Bahasa Inggris belum memenuhi standar untuk mendapatkan pelatihan intensif IELTS (ditolak karena nilai Bahasa Inggris kandidat masih sangat kurang dan masih harus belajar lagi).
Saat
mengikuti tes tulis, kandidat diharapkan berada dalam kondisi santai
sehingga saat menulis essai tidak ada beban pikiran tetunya bisa menulis dengan
tenang.
Tes
terakhir adalah wawancara. Wawancara adalah babak penentu kandidat bisa
membuktikan kepada para penguji bahwa kandidat merupakan potensial
untuk melanjutkan S-2 melalui program beasiswa. Di sinilah kalian akan
diberikan pertanyaan-pertanyaan seputar keluarga, hobi, pekerjaan, kontribusi
untuk daerah di masa depan serta jurusan yang akan diambil. Pertanyaan terdengar sederhana tapi
membutuhkan jawaban tepat, jelas dan akurat, sebaiknya kandidat mempersiapkan
jawaban terlebih dahulu di rumah. Pewawancara sering bertanya tentang update berita terbaru tentang jurusan
yang akan diambil, Jangan lupa informasinya terus di update.
Tiga bulan belajar intensif IELTS merupakan kesempatan langka dan pastikan kalian berjuang untuk memenuhi standar beasiswa yang ingin kalian dapatkan tentunya dengan berusaha, semangat, saling memberikan dukungan dan berdoa itu merupakan kunci sukses untuk menembus target score IELTS yang ingin dicapai.
Semoga Bermanfaat!
Good Luck!





2 Comments
smangat!
ReplyDeleteManteep
ReplyDelete