Lombok Sebulan Pasca Gempa #LombokBangkit





Hari Minggu, tanggal 29 Juli 2018

Masih segar dalam ingatan, pagi itu terasa begitu membahagiakan karena hari Minggu. Tidak perlu bangun pagi dan mandi untuk bersiap-siap berangkat kerja. Cukup hanya mengejar shalat  subuh. Setelah subuh dilakukan biasanya saya berbaring ringan di atas kasur sambil memikirkan hari minggu ini mau ngapain? Entah pergi ke Udayana untuk Car Free Day, jalan-jalan ke sawah menghirup udara pagi yang segar atau bersepeda ke Pasar Sayang-sayang mencari sarapan. Semuanya berputar di dalam pikiran. 

Tiba-tiba pukul 06. 47 WITA tepat di atas tempat tidur suara gemuruh itu terdengar keras dan tempat tidur bergoyang seperti siap melempar saya keluar rumah. Spontan saya berdiri berlari keluar dan mendengar kakak berteriak “gempa … gempa” sambil masuk ke kamar mengambil anaknya yang masih tidur pulas. Kami berkumpul di halaman belakang terdiam menatap satu sama lain sambil membaca Istigfar. Itulah gempa dengan kekuatan 6. 4 M menguncang Lombok dengan pusat gempa berada di 47 Km timur laut kota Mataram (sekitar Gunung Rinjani, Kabupaten Lombok Timur). Guncangannya terasa hingga ke Bali dan Pulau Sumbawa.



Gempa ini menjadi headline di media nasional karena memakan korban jiwa, rumah banyak rusak parah dan menyebabkan longsor di Gunung Rinjani, para pendaki Rinjani segera dievakuasi. Alhasil karena longsor treck di Rinjani banyak yang rusak dan Taman Nasional Gunung Rinjani di tutup sampai masa waktu yang tidak ditentukan.

Seminggu berlalu!  Aktivitas terpantau normal kembali, walaupun gempa 6. 4 M menghantam Lombok dan tidak pernah terlintas dipikiran akan terjadi gempa susulan yang lebih besar.

Ternyata Salah!

Hari Minggu, 5 Juli 2018

Tepat seminggu setelah gempa kemarin, gempa susulan dengan skala 7.0 berpotensi tsunami menghantam dan meluluh lantahkan Lombok. Di usia 26 tahun saya baru merasakan gempa sebesar ini. Menyaksikan rumah  bergoyang-goyang seperti mainan, lsitrik mati, mendengar tetangga dan orang-orang yang lewat berteriak takbir karena takut dan yang paling heboh semua orang berlari ketakutan berteriak “air.… air…. air .“ Saya hanya bengong sambil mendengar Ibu meminta menelpon kakak yang sedang di Mataram.

Orang-orang berlalu lalang semakin banyak, jalan di depan rumah full. Orang-orang lewat membawa bantal, selimut dan tas besar. Kabar dari WA grup mengatakan air di Pantai Ampenan sudah surut otomatis saya berpikir “gilaaaa tsunami ini” gumam dalam hati. Akhirnya dengan kecepatan tingkat dewa saya melesat berlari masuk ke dalam rumah mengambil selimut, laptop, kunci motor dan barang-barang lain yang bisa diselamatkan. Dengan segera saya mengunci pintu kemudian berlari menyelamatkan diri. Akhirnya peringatan tsunami dicabut sehingga kami bisa bernapas lega walaupun masih terbayang gempa besar yang baru saja dirasakan.

Tenda-tenda darurat akhirnya dibuat menggunakan terpal. Beberapa tetangga yang bekerja di pariwisata (guide) sehingga mereka memiliki tenda-tenda yang digunakan tamu untuk naik gunung. Tenda itu dipasang untuk mereka yang memiliki bayi dan balita sehingga mereka tidak kedinginan karena angin malam yang cepat membuat sakit. Di sanalah  persaudaraan itu keluar satu rasa, satu derita karena Gempa. Ini hikmah dibalik bencana kami bisa berkumpul, berbagi cerita dan beribadah bersama. 




Jika diamati orang-orang keduluan panik sehingga tidak bisa bepikir jernih sehingga info-info yang salah diterima begitu saja. Lain kali memang harus hati-hati sehingga kita tidak termakan isu hoax.

Bakti Sosial

Sehari setelah gempa saya masih bertahan di tenda darurat sambil menunggu kabar dari tempat bekerja. Membaca update berita terbaru tentang Lombok setelah gempa besar yang terjadi. Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur hancur parah terkena dampaknya karena di sanalah pusat gempa terjadi, sedihnya korban jiwa mulai berjatuhan.

H Plus 2 Gempa. Saya dan tim dari Desa Kekeri berangkat menuju Lombok Utara mengantar bantuan berupa tenda dan bantuan logistik. Kami berangkat menggunakan truck bak kayu. Dari atas truck saya hanya menangis melihat rumah-rumah yang hancur sepanjang jalan. Saya tidak pernah membayangkan Lombok yang begitu indah,  seketika berubah menjadi pulau yang penuh dengan reruntuhan bangunan.





Ada tiga titik tepat kami melepas bantuan yakni di Desa Luk Barat, Gondang dan Dusun Mentigi, Desa Melake, Pemenang Barat . Di Desa Luk Barat kami berbincang-bincang ringan dengan masyarakat yang mengungsi dan mereka banyak mengeluhkan air bersih yang masih sangat kurang, bantuan dari Pemerintah Daerah juga belum  masuk hari itu. Mereka juga meminta kami untuk kembali membawa bantuan lagi.





H Plus 4 Gempa. Tidak hanya di KLU dan Lombok Timur kerusakan parah terjadi di desa  Jeringo, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat. Bangunan yang rusak di sana lebih dari 80 persen. Bantuan dari dalam dan luar negeri yang masuk Alhamdulillah kami bisa salurkan ke tempat ini. Berbagi di tengah-tengah kondisi duka adalah sesuatu yang wajib dilakukan dan tentunya mulia untuk kebaikan bersama. 




Trauma Healing!

Menjadi sesuatu yang sangat penting saat ini terutama untuk anak-anak. Gempa besar 5 Juli kemarin membuat mereka sangat takut dan masih trauma untuk masuk ke dalam rumah sama halnya dengan orang tua. Pada tanggal 23 Agustus kemari saya juga berkesempatan mengunjungi salah satu Dusun di Desa Geria, Kec. Lingsar, Lombok Barat. Disebutkan bahwa anak-anak di  Dusun Murpeji ini mengalami trauma mendalam. Jika Maghrib tiba mereka sering berteriak menangis ketakutan dan berlari keluar jalan. Dusun ini berada di bawah jurang, ujung barat, utara bukit Lingsar. Untuk bisa sampai di sini dibutuhkan skill berkendara yang bagus. Jadi harus luar biasa hati-hati.




Sangat bersyukur bisa mengunjungi anak-anak di sana. Kami bermain, bernyanyi dan belajar bersama. Mereka sangat antusias menjawab setiap pertanyaan yang diberikan apalagi saat diberi hadiah, mereka berteriak kegirangan. Wajah-wajah mereka yang tertawa dan  tersenyum semoga menjadi pertanda awal yang baik untuk melupakan trauma yang dirasakan.

Masih dengan tema yang sama “Trauma Healing.” Saya dan tim Duta Damai Mataram juga berangkat ke Pringgabaye dan Sambelia Lombok Timur. Duta Damai Mataram menyerahkan bantuan logistik, selimut, Al- qur’an dan buku-buku pelajaran untuk anak-anak di sana. Mereka menghibur anak-anak dengan semangat ’45. Mengajak mereka menyanyikan lagu nasional, menyemangati agar terus belajar dan tidak takut gempa dengan memberikan tips untuk melindungi diri saat terjadi gempa. Salut dan bangga! Tidak ada kata lelah bagi  mereka membantu  melihat Lombok segera bangkit.




Banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari gempa Lombok ini. Semoga ke depan kita terus berbenah memperbaiki diri, menjaga hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Harapan dan doa sebaik-baiknya untuk Lombok. Tanah kelahiran kita tercinta.

Lombok Bangkit !

 Credit photo : Zhee, Fadil. S. Gunawan, DDM

Post a Comment

8 Comments

  1. Mari jaga Lombok. Semoga Lombok kita cepat pulih. Amin...

    ReplyDelete
  2. Semoga Lombok kmbali bangkit dan kembali Kece... Kereen tulisannya :)

    ReplyDelete
  3. semogga lombok bangkit dan indah,,aminn

    ReplyDelete
  4. Ikut prihatin dengan musibah gempa Lombok..., tentu menyisakan trauma besar buat warga.
    Kudoakan Lombok segera pulih kembali dan cepat bangkit lagi.
    Dan tidak terulang musibah gempa ini.

    ReplyDelete