Saya sering mendengar jika
mereka menyebut “Sasak” identik dengan masyarakat malas sekolah, tukang kawin,
manja dan tidak memiliki semangat juang.
Mereka tidak menyebut Sasak seperti suku lainnya. Bima yang rajin dengan
persatuannya yang kuat, Jawa yang halus serta ulet dalam bekerja, Bali yang
mencintai alam dan Batak yang pemberani dan blak-blakan.
| Photo Bersama |
Sasak penuh dengan stigma
negatif, Mengapa demikian? Saya juga tidak tahu. Padahal menurut saya orang
Sasak adalah orang-orang yang jamaq-jamaq
(apa adanya/biasa) dalam menjalani hidup. Apa yang saya dengar sepertinya tidak
ada baik-baiknya malah kadang-kadang terdengar
“disepelekan.”
Hari Selasa 26 Desember
2017 bertempat di Kantor Bappeda Provinsi saya hadir menghadiri seminar dan launching buku salah satu Sejarawan
terkemuka Lombok yang bernama DR. Muhammad Fadjri. MA. Seminar ini
diselenggarakan oleh Majelis Adat Sasak melalui Forum Ilmiah Sejarah Sasak
(FISS) yang mengundang banyak cendikiawan, budayawan, pejabat dan politisi yang
berasal dari Lombok. Hampir 50 lebih tamu undangan hadir dalam seminar ini.
Mengusung tema “Menjawab Historiografi Luar Tentang Sasak.” Hadir sebagai speaker yakni DR. Muhammad Fadjri. MA
sebagai pembicara utama kemudian DR. Nuriadi, M. Hum sebagai pembahas disusul
DR. Muhammad Jamaludin, M. Ag dan DR. Lalu. Ari Irawan, MPd.
Seminar berlangsung sangat
khidmat, menarik dan penuh dengan nuansa ilmu pengetahuan karena rata-rata yang
hadir sineas akademika. Moderator dan peserta terlihat saling tawar menawar
waktu untuk bergantian memberikan komentar dan pertanyaan atas paparan yang
disampaikan oleh DR. Fadjri.
Jujur saya katakan bahwa
saya tidak belajar banyak tentang sejarah Lombok saya hanya bisa menyebut diri
saya sebagai penikmat sejarah, tapi saya berpikir bahwa sebagai orang Lombok
itu bukanlah alasan untuk kita tidak belajar sejarah secara lebih mendalam lagi,
karena saya rasa itu penting di masa depan untuk kita bisa memberikan
penjelasan dan gambaran tentang Sejarah Lombok untuk anak cucu kita dan saat
pertama kali bertemu dengan DR. Fadjri saya merasa bahwa ini kali pertama saya
membicarakan sejarah dengan perspektif yang sangat berbeda dan amat sangat
menarik.
------
Kembali ke paparan DR. Fadjri saat seminar berlangsung
Mengapa saya katakan berbeda? Cara berpikirnya sangat
kritis beliau menyampaikan bahwa buku-buku, gambaran sejarah hari ini
tentang Lombok ditulis oleh para penulis dari luar memiliki banyak kepentingan
di masa lalu. Dan kita khusunya orang Sasak hanya mengiyakan saja (aoq-aoq doang) tanpa pernah mau berpikir
benar atau tidak apa yang mereka katakan tentang sejarah Sasak tersebut. Mereka
mengatakan ini itu tentang masa lalu kita seolah-olah mereka adalah pemilik
masa lalu tersebut.
Dari kata-kata beliau terlihat
kekecewaan yang begitu mendalam bahwa hari ini mengapa masyarakat Sasak hari
ini tidak sadar, tidak memiliki rasa kepekaan bahwa sebenarnya kita tidak
habis-habisnya dibodoh-bodohi oleh tulisan-tulisan dari orang luar tersebut dan
tidak menyadari betapa hebatnya kita bangsa Sasak (nenek moyangnya) di masa lalu. Saya berpikir inilah dasar yang
membuat beliau begitu gigih untuk meneliti tentang Sejarah Sasak. Dalam
melakukan penelitian DR. Fadjri tidak hanya mealakukan penelitian di Lombok, ia
juga pergi ke Leiden, Belanda dan beberapa pulau di Indonesia yang mengenal
masyarakat Sasak pada masa lampau.
Dan ada beberapa poin yang
patut menjadi catatan penting untuk kita semua tentang telaah beliau tentang
“Sejarah Sasak” Dan membuat saya sedikit terkejut dan menambah rasa penasaran.
Pertama, bahwa DR. Fadjri
dalam melakukan penelitian sejarahnya dengan menggunakan metode hermeutika yang
berarti menafsirkan atau study of
understanding (studi pemahaman). Diperkenalkan pertama kali saat sejak
munculnya buku-buku dasar logika Peri Hermeneias karya Aristoteles.
Sejak saat itu pula konsep logika dan penggunaan rasionalitas diperkenalkan
sebagai dasar tindakan hermeneutis). Jika dilihat dari beberapa kalimat yang di
sampaikan beliau menekankan kita perlunya bersikap kritis terhadap masa silam.
DR Fadjri penganut mazhab ciritical
theory sejalan dengan Michael Foucault. Foucault mengatakan Sejarah adalah
sebuah konstruksi sosial yang didalamnya terlibat kekerasan politik, kerakusan
kuasa dan kolaborasi antara kekuasaan dengan pengetahuan. Sejarah telah berkembang
dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan eksploratif dan eksploitatif. Sejarah harus
digali kembali, dibongkar dan ditemukan kepalsuan-kepalsuannya. Itulah yang dia
lakukan DR. Fadjri selama hampir 20 tahun dalam perjalanan penelitiannya.
Kedua, peradaban Sasak itu
telah ada sejak zaman Nabi IDRIS. Saya sedikit bingung saat dia menyebut salah
satu nama nabi karena Islam masuk ke Lombok abad Ke-13 Masehi kira-kira tahun (1201-1300) sedangkan nabi
IDRIS hidup ribuan tahun yang lalu. Apa korelasinya? Ternyata beliau
mengaikatkan kata DURUS dengan IDRIS secara sederhana saya tangkap mengartikan
sebuah kata kemudian dikaitkan satu sama lain tentang suatu kondisi atau
peristiwa masa kini dengan masa lampau. Seperti yang ada di dalam kitab SULUT
sejak 5000 tahun yang lalu mengajarkan orang Sasak merumuskan bagaimana cara
mereka beragama dan bagaimana turunannya. Selain itu dikuatkan dengan fakta
penemuan oleh salah satu Arsitektur UI tentang usia atap rumah adat Sasak yang
diteliti berusia sekitar 3.500 tahun.
Ketiga, tentang para
pendatang yang ada di Lombok, DR. Fadjri menyebutkan kedatangan mereka yakni
Jawa-Majapahit, Gel-Gel- Klungkung, Goa-Tallo (Makassar) Bali-Karangaasem dan
Belanda. Inilah yang membuat nenek moyang orang Sasak disebut dari berbagai
macam orang yang membuat kita terkadang bingung. Tulisan-tulisan Babad yang
hari ini dibaca masyarakat Sasak seperti Babad Lombok, Babad Suwung, Babad
Selaparang dan lainnya yang menjadi rujukan dalam belajar maupun penulisan
sejarah Sasak dapat dikatakan sebagai ukuran kebenaran semua hal tentang
sejarah Sasak mulai dari asal-usul, bahasa, keyakinan, cara hidup dan karakter.
Dari hasil telaah lelaki yang belajar sejarah linguistic ini, ia menemukan
banyak data dan fakta yang tidak sesuai dengan kebenaran yang diyakininya.
Terlepas dari itu semua
DR. Fadjri adalah Sejarawan (ilmuan) yang berusaha dekat dengan kebenaran. Seperti yang dikatakannya
dalam sesi terakhir “Salah atau benar apa yang saya lakukan hari ini biarlah
generasi selanjutnya yang menentukan dan membuktikannya kelak.” Dan saya
percaya penelitian beliau pure untuk
kemajuan ilmu pengetahuan dan hal ini wajib diapreasiasi setinggi tingginya.
Semoga Bermanfaat!
1 Comments
Wah,,acara keren nih dek. Sejarah memang penting untuk kita pelajari apalagi dizaman yang serba canggih dimana kebanyakan orang lebih banyak care ke IT...jas merah kalau kata Soekarno..:)
ReplyDelete