Masyarakat Lombok khususnya pasti
mengenal tradisi yang satu ini karena sudah dilakukan sejak turun-temurun.
Lebaran topat merupakan lebaran yang dilakukan seminggu setelah hari raya Idul
Fitri. Lebaran topat pada dasarnya adalah sebuah 'lebaran kecil' setelah umat
muslim selesai menunaikan puasa sunnah bulan Syawal, yaitu puasa selama 6 hari
berturut-turut setelah hari Idul Fitri. . Masyarakat khususnya di Lombok Barat
dan Lombok Tengah membuat ketupat dengan berbagai hidangan masakan lainnya.
Jadi saat lebaran Idul Fitri ketupat
atau topat dalam bahasa Sasak (Lombok) tidak disajikan. Kita menikmati hidangan
ketupat dan masakan yang lain saat lebaran topat tersebut dirayakan.
Masyarakat Sasak sendiri setiap tahun
merayakan lebaran topat ini dengan pergi berlibur bersama keluarga, pacar,
tetangga, siapapun yang ingin pergi. Kebanyakan dari mereka menggunakan mobil pick up karena jumlah mereka yang tidak
sedikit ada pula yang menggunakan truck
untuk memuat lebih banyak orang jadi mereka diangkut seperti barang dan bahan
material, terlihat seru dan sangat membahagiakan. Mereka biasanya pergi
berlibur seharian berangkat sejak pagi dan pulang petang. Memilih tempat-tempat
yang tidak terlalu jauh dan masih di sekitar Lombok. Kebanyakan masyarakat
Lombok memilih pantai dan air terjun tidak lupa mereka membawa banyak bekal
yakni hidangan ketupat yang telah mereka masak di rumah masing-masing.
Khusus untuk di Kekeri sendiri
lebaran topat diawali dengan menaikkan dulang atau berbagai jenis makanan yang
di taruh di dalam satu nampan besar yang biasa disebut “Nare” dalam bahasa
Sasak. Setiap keluarga memiliki kewajiban memberikan satu dulang kepada Masjid
dan dulang tersebut dikumpulkan menjadi satu kemudian dihidangkan kembali
kepada masyarakat. Semua orang berkumpul di masjid setelah dipanggil melalui
speaker masjid. Ini semua berlaku hanya untuk laki-laki, perempuan tidak pernah
ikut begibung (makan bersama dalam satu nampan besar.) Perempuan bertugas
mengambil sisa dulang dan membersihkan piring-piring kotor yang telah
digunakan.
| Photo by: Zhee |
Saya pernah bertanya kepada Ibu saya
mengapa tidak ada perempuan yang ikut begibung di Masjid dengan nada datar Ibu
saya menjawab “datang saja kalau kamu tidak malu karena dari dulu yang begibung
hanya laki-laki.” Kita hanya bertugas menyiapakan makanan dan membersihkan,
sambungnya. Saya tidak melanjutkan pertanyaan saya karena jika itu terjadi bisa
dianggap tidak sopan terlalu banyak bertanya tentang adat-istiadat.
Setiap tahun perayaan lebaran topat
ini berlangsung meriah walaupun menyebakan macet sepanjang-panjang jalanan,
mereka tetap semangat untuk pergi merayakannya. Momen berkumpul bersantai
bersama sangat terasa saat merayakan lebaran topat ini.
3 Comments
Sy kemarin ga sempet merasakan meriahnya lebaran topat
ReplyDeleteSy kemarin ga sempet merasakan meriahnya lebaran topat
ReplyDeleteKenapa mas??
ReplyDelete