Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Dusun
Tebango Bawah, Pemenang, Lombok Utara. Pada tahun 2012 yang lalu seorang
sahabat pernah bercerita mengunjungi tempat ini dan menulis tentang jejak
Buddha di Lombok tapi yang dikunjungi adalah Kampung Buddha atas. Mengingat
cerita tersebut semangat semakin tinggi untuk datang ke tempat ini.
Sampai di sana kami disambut oleh seorang wanita muda yang
terlihat sangat ramah menjabat tangan kami dan dengan bersemangat dia
menjelaskan seputaran kondisi tentang Dusun Tebango Bawah ini, dan kami mulai
bertanya tentang rohaniawan Buddha atau Bikshu yang ada di lingkungan Vihara.
Sepengetahuan kami untuk memahami jejak sejarah dan seputaran ajaran Buddha di
Lombok, rohaniawan adalah orang yang tepat di temui karena biasanya rohaniawan
adalah bagian dari sejarah perkembangan tersebut. Diapun meminta kami untuk
menunggu karena dia akan memanggil Bante untuk mengatakan kedatangan kami.
Sekitar sepuluh menit sembari melihat kondisi lingkungan sekitar Bante keluar
dan mengajak kami menuju Kuthi (tempat para rohaniawan tinggal) Kemudian kami
berkenalan sambil melipat kedua tangan di depan sambil menyebut nama
masing-masing. Bante pun menyebut namanya yakni wiria yang dalam bahasa kawi
atau “Jawa Kuno” yang berarti semangat.
Pemandangan sekitar terlihat jelas karena posisi Kuthi agak
tinggi melewati beberapa anak tangga untuk bisa sampai. Perumahan warga, Vihara
Jaya Wijaya, Candi Suryadipati terlihat indah secara lebih dekat. Sangat
menarik saat salah satu sahabat saya bertanya tentang salah satu patung Buddha
yang ukurannya tidak terlalu besar berada di ujung halaman Kuthi dan Bante
menjelaskan bahwa patung tersebut merupakan Patung Rampang Buddha (Sakia Moni)
Merupakan gambaran perwakilan Buddha di dunia yang lahirnya belakangan karena
Buddha tidak ingin patungnya dibuat. Tidak lama kepala saya berisi penuh dengan
berbagai pertanyaan tentang Sang Buddha.
| Candi Suryadipati |
Berbagai hal kami diskusikan bersama Bante Wiria mulai dari
literatur Babad Lombok yang berpengantar bahasa kawi (Jawa Kuno) yang
menyatakan bahwa agama pertama orang Lombok adalah wratsari (suatu bentuk agama
asli sasak di masa lampau yang seringkali disebut Buda. Adapula yang menyatakan
bahwa masuknya Buddha ke Lombok berawal dari orang-orang Majapahit yang meminta
izin kepada Raja Bali untuk tinggal di sana kemudian mereka di tolak dan
diminta untuk pergi ke Lombok. Hari ini sekitar 20.000 umat Buddha tersebar di
Lombok menjadi agama kedua terbesar di Lombok. Sejarah pasti memiliki beberapa
versi karena banyak yang menulis “gumam saya dalam hati.”
Berbicara masalah sejarah Buddha di Lombok pastilah juga
banyak mengacu kepada tulisan pelaku sejarah salah satunya sebagai tokoh
sesepuh umat Buddha di Lombok adalah PM.d Martinom dan namanya saya dengar dari
seorang teman yang pada tahun 2012 lalu bertemu beliau. Sayangnya saat kami
ingin bertemu ternyata beliau wafat sekitar dua bulan yang lalu.
| Sakia Moni |
Selain itu Bante menjelaskan tentang konsep ketuhanan dalam
Buddha yang “nonteis” yang mejelaskan bahwa Tuhan bukan pusat semuanya tetapi
berada pada manusia itu sendiri namun ajaran Buddha tidak menampikkan adanya
kehadiran Tuhan. Mengenai ajaran Buddha sendiri dan dapat dilaksanakan oleh
siapapun termasuk non-Buddha, dapat dikatakan seperti “falsafah hidup.” Saya
merasa tertarik untuk menjadi pengikut Buddha karena mengajarkan nilai-nilai moralitas
yang sangat luar biasa senada dengan agama-agama lain. Terakhir kami
menyaksikan persiapan tradisi Pabajjan (penyerahan diri secara intensif) di
mana semua orang sibuk mempersiapkan berbagai keperluan acara tersebut.
Terima Kasih!
Photo credit to: Ziadah Ziad
3 Comments
Wah....menarik nih tulisannya dek....
ReplyDeleteterima kasih mbak....
DeleteLombok memang keceh... jarang2 loh ada pulau (daerah) di Indonesia yg umat budha.nya banyak
ReplyDelete