Siapa yang tidak mengenal Samuel P. Huntington ia adalah Guru Besar sekaligus Dekan ilmu Politik dari Universitas Harvard dan juga Ketua Harvard Academy untuk Kajian Internasional dan Regional di Weatherhead Centre for International Affairs. Artikel yang ditulisnya berjudul “The Clash of Civilization” menjadi bahan diskusi selama kurun waktu tiga tahun. Berbagai komentar dan tanggapan berdatangan dari seluruh penjuru dunia.
Banyak
yang mengatakan membaca buku ini cukup berat karena terdapat berbagai istilah asing
yang jarang sekali ditemukan di buku-buku lain, membutuhkan kekuatan akademik
yang baik untuk bisa memahaminya, namun hal
itu bukan masalah selama kita berusaha untuk mencari tau dari setiap kata atau
mungkin istilah yang tidak kita pahami. Beruntung saya akrab dengan ilmu-ilmu
sosial yang membuat saya tidak terlalu susah untuk bisa memahami selama membaca
buku ini.
Pada
musim panas 1994 jurnal Foreign Affairs
Amerika Serikat menerbitkan artikel ini yang menurut para editornya terus
menjadi bahan diskusi selama kurun waktu tiga tahun yang dikatakan tidak pernah
terjadi semenjak jurnal tersebut menerbitkan artikel pada tahun 1940. Mereka
mengatakan artikel ini sebagai salah satu artikel yang paling banyak memancing
perdebatan, mampu membuat orang begitu terkesan sekaligus tersinggung dengan argument
penulisnya yang mengatakan “sebab utama paling berbahaya dari munculnya konflik
politik global adalah adanya benturan antar-peradaban. Jelas yang membawa
pengaruh yang sangat besar terhadap begitu banyak orang yang berasal dari
berbagai peradaban yang mempengaruhi perdamaian dunia dan dalam kancah dunia
internasional peradaban merupakan pengaman ‘penting’dalam mencegah terjadinya
perang dunia.
Buku
ini merupakan karya ilmiah dalam lapangan ilmu-ilmu sosial yang merupakan
interpretasi terhadap perubahan politik global paska Perang Dingin yang
mengilhami sebuah Framework,
paradigma yang dapat digunakan dalam memahami perubahan politik global yang
akan sangat berarti bagi kalangan sarjana dan para pembuat kebijakan (policy makers).
Tema sentral buku ini berkaitan dengan identitas-identitas budaya dan kebudayaan atau pada skala yang paling luas, identitas-identitas peradaban yang mampu membentuk pola kohesi sekaligus disintegrasi dan konflik paska Perang Dingin. Dalam buku ini kita akan mengetahui seberapa besar pengaruh peradaban dalam meramal masa depan politik global.
Sejarah
manusia adalan sejarah peradaban itu sendiri. Tidak mungkin berbicara teantang
sejarah perkembangan manusia yang membentang di seluruh peradaban dari Sumeria
Kuno dan Mesir hingga peradaban Klasik dari Meso-Amerika hingga peradaban
Kristen, dalam peradaban-peradaban Islam dan pengejawantahan-pengejawantahan
suksesif peradaban Tiongkok dan Hindhu melalui term-term
yang lain. Seluruh sebab kemunculan, perkembangan, saling keterkaitan,
pencapaian-pencapaian, kemunduran, kejatuhan berbagai peradaban telah
tereksplorasikan melelalui para sejarawan, sosiolog, dan antropolog seperti Max
Webber, Emile Durkheim, Oswald Spengler, Pitrim Sorokin, Arnold Toynbee, Alfred
Weber, A. L. Kroeber, Philip Bagby, William H. Mc Neil dsb merupakan
penulis-penulis yang membuahkan karya-karya penting dan shopisticated yang diarahkan pada upaya analisis komparatif atas
berbagai peradaban. Meskipun terdapat berbagai perbedaan perspektif terdapat
satu kesepakatan dalam kaitan dengan preposisi-preposisi sentral mengenai
hakikat, identitas dan dinamika dari masing-masing peradaban.
Setiap
peradaban melihat dirinya sebagai pusat dunia dan menyatakan diri sebagai pusat
kehidupan sejarah manusia. Ini barang kali yang menjadi penyebab mengapa
kebudayaan Barat tampak lebih cepat dibenarkan dari kebudayaan-kebudayaan lain.
Kemudian
beberapa orang menyatakan bahwa abad ini menjadi saksi lahirnya apa yang oleh
V. S Naipaul disebut “peradaban universal” Apa sebenarnya makna dari term ini? Pertanyaan tersebut
mengimplikasikan adanya pandangan umum bahwa kehadiran suatu budaya senantiasa
tidak lepas dari kemanusiaan dan adanya penerimaan secara umum terhadap
nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, orientasi-orientasi prilaku-prilaku dan
institusi-institusi oleh umat manusia di seluruh dunia. Istilah ‘peradaban
universal’ dapat digunakan untuk menunjuk pada masyarakat-masyarakat yang telah
berperadaban, sebagaimana masyarakat-masyarakat yang hidup menetap di perkotaan
dan telah memiliki kemampuan baca tulis yang dibedakan dari
masyarakat-masyarakat yang masih primitif dan Barbarian. Kemudian term ini juga menunjuk berbagai asumsi,
nilai-nilai dan doktrin-doktrin yang akhir-akhir ini dijalankan oleh sebagian
besar orang di Barat dan oleh sebagian besar orang-orang non- Barat.
Dalam
dunia ‘baru’ hubungan-hubungan antara negara dengan peradaban menjadi semakin
sulit dan tidak jarang menunjukkan kecendrungan antagonistik. Dan hubungan
antarperadaban lebih mengarah pada konflik daripada bentuk yang lain. Pada
tingkatan mikro terdapat garis persinggungan yang tajam antara umat Islam
dengan kaum Ortodoks dan umat Hindhu antara masyarakat Afrika dengan umat
Kristen Barat tentang mereka. Pada tingkatan makro, terdapat pendapat yang
sangat nyata antara Barat dan non- Barat hal itu ditandai dengan konflik yang
semakin meningkat antara umat Islam dan masyarakat-masyarakat Asia, di satu
pihak dan dengan Barat di pihak lain. Di masa akan datang benturan-benturan
yang terjadi tanpaknya lebih disebabkan oleh arogansi Barat, intoleransi umat
Islam, dan “arogansi” Tionghoa.
Peradaban
Barat merupakan peradaban besar yang seringkali memicu terjadinya benturan
keras antarperadaban. Hubungan antara kekuasaan dan kebudayaan Barat dengan
kekuasaan dan kebudayaan dari peradaban lain menjadi, sebagai hasilnya
karakteristik yang paling umum dari dunia peradaban. Persoalan utama dalam
hubungan antara Barat dan dunia sekitarnya ditandai oleh adanya
‘ketidaksesuaian’ antara upaya-upaya Barat-terutama Amerika -untuk
mempropangandakan universalitas kebudayaan Barat dengan kekurangmampuan Barat
untuk mengimplementasikannya.
Kegagalan
komunisme semakin mempertajam ‘ketidaksesuaian’ tersebut. Hal itu kemudian
menjadi anggapan di kalangan masyarakat barat bahwa ideologi liberalisme
demokratik dapat diterima secara global dan karenanya memiliki validitas yang
bersifat universal. Barat khusunya Amerika Serikat, selalu menajadi bangsa
‘misionaris’ dan menurut mereka masyarakat non-Barat hendaknya menerapkan
nilai-nilai demokrasi barat, pasar bebas, pemerintahan terbatas, menjunjung
tinggi HAM, individualisme, peran hukum dan mengejawantahkan nilai-nilai ini
dalam institusi-institusi mereka.
Kelompok-kelompok
minoritas dari berbagai peradaban akan menerapkan dan mempropagandakan
niali-nilai tersebut dan sikap-sikap dominan terhadap kebudayaan barat bermuara
dari meluasnya skeptisme hingga oposisi Intens. Apa yang menurut barat
universalisme bagi masayrakat non-Barat adalah imperialisme. Barat sedang dan
akan terus berusaha mempertahankan superioritas serta kepentingan-kepentingannya
dengan cara menunjukkan kepentingan itu seakan-akan sebagai ‘kepentingan
masyarakat dunia’. Frasa itu sebenarnya merupakan sebuah eufisme-kolektif untuk
memberikan legitimasi global terhadap berbagai kebijakan yang merefleksikan
kepentingan Amerika Serikat dan Negara Barat lainnya.
Pretensi-pretensi
universalis barat semakin mengantarkan pada konflik dengan peradaban-peradaban
lain dan yang paling serius adalah Islam dengan Cina pada tingkat lokal terjadi
konflik antara kaum Muslim dan non-Muslim yang menggerakkan “Negara-negara
serumpun” ke arah pertikaian yang meluas. Dalam hal ini peran Negara inti
sangat menentukan dalam mencegah konflik-konflik tersebut. Terhindarnya perang
global antar peradaban bergantung pada kebijakan dan kerja sama para pemimpin
dunia dalam mempertahankan karakter multisivilisasional dari politik global.
2 Comments
Tulisan yang bagus. Salam
ReplyDeleteTerima kasih,salam balik!
Delete