Mataram Peteng Bersama World Wide Fund for Nature (WWF)


Tepatnya hari Sabtu, 25 Maret kemarin saya sebagai volunteer Edu Land ikut menghadiri salah satu kegiatan global yang tidak asing di telinga kita yakni Earth Hour, rutin diselenggarakan setiap tahun pada sabtu terkahir bulan Maret oleh  World Wide Fund for Nature (WWF), kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim.

Panitia penyelenggara acara ini adalah anak-anak Earth Hour Mataram sendiri. Mereka terlihat sangat bersemangat dalam mempersiapkan acara ini walaupun ngaret beberapa jam, acara ini berlangsung cukup meriah. Sekitar sebelas komunitas hadir sebagai tamu undangan. Acara dibuka dengan mendengarkan berbagai pengalaman dari beberapa orang-orang yang  cukup terkenal di Lombok seperti Syafrudin Syafii perwakilan dari WWF NTB, mbak Aisyah pendiri Bank Sampah NTB Mandiri, Bang Teo selaku pemilik The Geria Lombok. Secara singkat masing-masing dari mereka bercerita tentang pengalaman dan pengetahuan seputaran sampah  digeluti yang sangat inspiratif tentunya  patut diteladani semua orang.

Beberapa hal menjadi catatan penting saat mendengar mereka berbagi pengalaman terutama ketika mbak Aisyah mengatakan dirinya berhasil mengunjungi banyak negara karena Bank Sampah NTB Mandiri yang ia dirikan. Memberikan edukasi gratis kepada semua orang tentang pengelolaan sampah beserta menjual berbagai produk yang berasal dari bahan baku sampah yang berhasil menggaet konsumen dari berbagai negara.

Kemudian dari bang Teo selaku pendiri The Geria Lombok yang secara tegas menyuarakan untuk menggeser selera pasar untuk mengurangi penggunaan bahan baku kayu. Menjadi sangat menarik saat ia bercerita membuat satu meja dengan 40 kg sampah kemudian dijual seharga 10 juta rupiah dan ekspornya sudah memasuki pasar Eropa. Beliau mempunyai cita-cita untuk mendirikan Museum Paper Art pertama di dunia dan itu tempatnya di Lombok. Semua hal yang dilakukannya hanya karena “Aku Cinta Bumi” kata beliau.

Sebelum memasuki acara inti yakni memadamkan lampu kurang lebih selama satu jam, beberapa panitia acara mulai menyalakan lilin-lilin yang sudah disiapkan. Kemudian saat semua lilin menyala terang MC acara menghitung mundur 3...2...1... Semua lampu dimatikan! Menjadi lucu ternyata tidak semua masyarakat Mataram ikut berpartisipasi dalam acara ini karena di luar tempat acara masih bisa terlihat jelas lampu-lampu masih menyala terang. Sangat berbeda saat saya mendengar berita di Sydney kurang lebih 2,2 juta penduduknya ikut berpartisipasi memadamkan lampu yang tidak diperlukan. Semoga tahun-tahun berikutnya itu bisa terjadi khususnya di Mataram.

Saya mengerti bahwa mematikan semua lampu bukanlah poin utama dari gerakan ini melainkan adanya pesan untuk menghemat energi dengan mematikan lampu-lampu yang tidak digunakan sebagai tanda kita mencintai bumi. Saya membayangkan apabila seluruh masyarakat Mataram ikut berpartisipasi seperti yang terjadi di Sydney pada 2007 itu pasti sangat seru dan membanggakan dan seluruh Mataram benar-benar peteng (gelap).


Kemudian setelah lampu dipadamkan panitia menghadirkan berbagai hiburan untuk para tamu undangan diantaranya dancing, aksi dari teman-teman Teater Putih UNRAM, dan beberapa penyanyi solo. Tamu undangan terlihat sangat menikmati acara ini, sesekali mereka berteriak histeris mendengar lantunan lagu-lagu yang dinyanyikan. 

Acara ditutup dengan sesi berphoto ria dengan semua anak-anak Earth Hour Mataram selaku panitia dan tuan rumah acara beserta beberapa komunitas lain yang hadir malam itu.


Post a Comment

2 Comments