Apakah sebenarnya arti dari kebahagiaan? Setiap orang pasti memiliki jawaban yang berbeda-beda bagaimana cara mendefinisikannya. Para saintis dan para ilmuan sosial tidak berenti menanyakan pertanyaan ini melalui berbagai penelitian. Semua usaha untuk mengetahui, menjelaskan, dan menilai kebahagiaan menunjukkan bahwa para peneliti (psikolog, teolog, filsuf, penasehat pribadi, pendeta, kosultan, terapis dll) dapat menggambarkan apa sebenarnya kebahagiaan itu.
Kebahagiaan menjadi
industri yang terus tumbuh dan sangat menggiurkan. Buku-buku self-help menghasilkan keuntungan
tahunan sebesar satu miliar dolar AS, sementara pasar global untuk obat anti
depresi menghasilkan keuntungan tidak tanggung-tanggung mencapai 17 miliar
dolar AS. Hanya dengan alasan sederhana menginginkan “kebahagiaan” mereka sangat
mudah menggaet hati konsumen.
Jeremy Bentham, ahli
filsafat hukum Inggris pada abad ke-18 mengatkan bahwa semua orang berusaha
keras untuk menjadi bahagia dengan cara memaksimalkan kepuasan dan meminimalkan
kepedihan. Bentham ingin pemerintah mengesahkan undang-undang yang memberi
orang kebebasan untuk mengejar kebahagiaan dengan cara apapun yang dianggapnya
terbaik.
Banyak ide tentang
kebahagiaan itu muncul. Selama berabad-abad, berkat minat intelektual yang
tinggi dan mejemuk, khazanah kebijaksanaan kebahagiaan menjadi kaya dan besar. Beberapa ide tentang
kebahagiaan bersifat filosofis, beberapa bersifat religius, beberapa dari
barat, beberapa dari timur, beberapa berusia ribuan tahun, bahkan beberapa
belum mencapai seratus tahun.
Seperti semua ide hebat
yang lain, ide-ide tentang kebahagiaan, tidak peduli berasal dari mana asalnya
pastilah mengalir dari pikiran-pikiran bebas manusia yang terbiasa dengan
hal-hal yang bersifat universal terhadap keberadaan kita umat manusia.
Buku karya dari Richard Schoch ini sejenak membuat
saya merefleksikan kembali sebenarnya apa hal-hal yang mampu dan dapat saya
lakukan untuk meraih kebahagiaan yang saya idam-idamkan selama ini, tentunya
dengan cara terbaik yang saya pilih dan menjadi bahagia merupakan sesuatu yang
kita putuskan untuk kita raih , bukan sesuatu yang datang tiba-tiba seperti
kemilau matahari setelah hujan badai menerpa.
Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi dalam tulisannya mengatakan bahwa “basis dari kebahagiaan itu adalah “mengalir” , sebuah kondisi konsentrasi dan perhatian tinggi yang kita wujudkan dalam kehidupan. Berusaha untuk bahagia bukan berarti ingin menjadi bahagia-karna siapa yang tidak ingin bahagia? Melainkan menganggap bahwa hidup kita adalah sebuah perjalanan yang di dalamnya kita bergerak secara sengaja menuju tujuan tertinggi itu.”
Secara tidak langsung
mengajarkan kita bahwa setiap orang berhak untuk bahagia melalui proses
kehidupan yang masing-masing dijalaninya. Pernyataan bahwa kita akan menemukan
kebahagiaan itu tidak dapat di jamin. Dengan kata lain, bagaimanapun hasrat
mencoba membujuk kita, itu tidak secara pasti membuat kita bahagia. Kita hanya
dapat secara pasti berusaha mendapatkannya. Kesempatan untuk bahagia merupakan
bagian yang tidak dapat dikurangi dari keberadaan kita, bagian yang tidak dapat
dihapuskan oleh siapapun.

1 Comments
Kebahagiaan menjadi industri... manteb
ReplyDelete