Sekitar
awal bulan Januari lalu saya mengkuti salah satu kuliah online dari dari
beberapa praktisi, akademisi hingga aktivis terkemuka Indonesia. Penyelenggara
acara ini salah satu NGO terkemuka German yang salah satu basisnya berada di
Jakarta. Kuliah perdana kami berjudul “Belajar
Wawasan Budaya Indonesia” dan Hilmar Farid hadir sebagai pembicara. Lima
belas menit sebelumnya peserta wajib stand by di depan Zoom dan tidak lama
wajah kuning pucat Hilmar Farid muncul.
Belum ngeh ketika itu, wajahnya memang terasa
tidak asing dan saya mulai me recall memori saya sembari terus
mengamati dan mendengarkan ketija dirinya bertegur sapa dengan panitia acara.
Saya ingat telah bertemu beliau di tahun 2021 yang lalu ketika mendampingi
salah satu NGO lokal di Lombok yang sedang membuat program sekolah adat di
Kabupaten Lombok Utara. Dia hadir sebagai pejabat Eselon I Kemendikbud
saat itu. Wajah aslinya terlihat jauh lebih menawan dibandingkan di layar
Zoom. Candaan saya dan teman-teman di Lombok ketika melihat tamu dari Jakarta
datang.
Kembali ke
isi pidato!
Sebelum
bertemu Hilmar farid kami diberikan bahan belajar sebagai stimulan untuk
berinteraksi dengan narasumber dan kebetulan pidato kebudayaan Hilmar Farid
pada tahun 2014 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta menjadi bahan belajar kami.
Sekitar dua jam penuh tanpa jeda saya mendengarkan kalimat demi kalimat yang
dia sampaikan. Pembuka, diksi, isi hingga penutup begitu informatif,
argumentatif dan sangat kuat menyentuh (persuasif) alam pikiran bahwa hubungan
masyarakat Indonesia dengan lautnya memang tidak seasyik lirik lagu Koes Plus.
Grup band legendaris asal Tuban.
“Sikap
memunggungi laut laut terjadi bukan karena kurangnya investasi di bidang
kelautan dan bukan pula karena kurangnya pengetahuan, teknologi, atau infrastruktur.
Semua itu adalah akibat dari perubahan panjang sejarah yang membalik arus
kebudayaan kita.”
Penggalan
isi pidato di atas, sang penggawa budaya mengajak kita selama lebih dari satu
jam kembali ke masa lalu untuk merenungkan 200 tahun lamanya mengapa negeri
kita memunggungi laut, kemudian mengamati situasi Indonesia hari ini dengan
tegas ia sampaikan bahwa Indonesia memang perlu untuk mengubah arah
tumpuan pembangunan yang tersandera di darat menuju laut. Sejalan
dengan harapan Ibu Susi Puji Astuti yang lebih suka melihat masyarakat
Indonesia makan ikan laut daripada daging sapi. Saya pikir pesan mereka
sama.
Cost yang
harus dibayar Indonesia dengan pembangunan ekonomi yang bertumpu di daratan
memang berhasil membawa Indonesia ke dalam kelompok 16 besar perekonomian
dunia. Tapi harga yang harus dibayar pada saat bersamaan sangat mahal dan
mungkin tidak seimbang dengan pencapaiannya. Antara tahun 2001-2013 setiap
hari ada areal hutan seluas 500 lapangan sepakbola yang dibabat. Setiap tahun
kita mendengar ribuan orang mengungsi karena banjir. Areal hutan yang dibabat
kemudian ditanami kelapa sawit atau tanaman keras lainnya, yang kemudian
membawa bermacam persoalan baru, mulai dari kerusakan lingkungan hidup,
meningkatnya ketegangan sosial dalam masyarakat, meluasnya praktek korupsi dan
arogansi politik.
Lebih
lanjut ia mengingatkan bahwa narasi-narasi indah kejayaaan Majapahit dan
Sriwijaya jangan sampai menenggelamkan kita dalam kebanggaan semu dan keyakinan
teologis bahwa Indonesia akan mengulang sejarah keemasan mereka di masa depan
melainkan sebagai cara untuk memahami dinamika sejarah yang kompleks dan
konkrit.
Konstruksi
sejarah panjang bangsa ini mengantarnya pada titik perubahan ekstrim yakni
kegagalan mempertahankan budaya maritimnya hal ini disebabkan oleh kekeliruan
dalam menerjemahkan konsep archipelagic state. Kata archipelago berasal
dari Yunani kuno, yakni arkhi berarti utama dan pelagos yang
artinya laut jika digabungkan laut yang utama dan dalam
rumusan Prof. Adrian lapian, lautan yang ditaburi pulau-pulau. (insight baru)
Dengan
menyebut negara kepulauan maka laut memang dianggap sebagai pembatas atau
pemisah antara pulau yang satu dengan yang lain. Dengan menyebut negara lautan
yang ditaburi pulau-pulau makan maka fokus utamanya adalah laut. Tidak hanya
perbedaan etimologi dan semantic belaka namun mengarah pada cara pandang,
tegasnya. (pengetahuan baru dalam memaknai negara kepulauan).
Dari pidato
Arus Balik Kebudayaan Hilmar Farid kita harus bisa menentukan arah budaya
maritim kita karena ini adalah pertaruhan kelangsungan masa depan
Indonesia. Saya berdoa dalam perjalanan panjang Indonesia ke depan ada sosok
kuat yang mampu mengantar kita menjadikan laut sebagai denyut nadi budaya kita
sehingga semboyan Jelesviva
Jayamahe bisa dipertanggung jawabkan.

0 Comments