Sejak kecil ibu sangat menekankan pentingnya bisa membaca Al-Qur'an. Ia kemudian mengirim saya dan keempat kakak saya ke salah satu guru ngaji di dekat rumah kami. Sekitar tiga puluh sampai empat puluh anak datang menenteng kitab suci mereka setiap harinya. Secara bergantian kami semua menunggu giliran untuk disimak. Setelah ngaji beberapa tahun Alhamdulillah saya berhasil khatam. Perayaan khatam dirayakan bersamaan dengan hari raya Maulid.
Transisi remaja menuju dewasa membuat saya tidak lagi rutin membaca Al-Qur'an karena jika sudah khatam dan bisa melafalkankannya dirasa sudah cukup. Ekspektasi orang tua pun terpenuhi walaupun hanya sebatas bisa membacanya saja. Harapan kelak bisa mengirim satu atau dua bait do'a ketika mereka berpulang ke hadapan Rahmatullah. "Ku kirim bi lalo pade ngaji adeqm bi tao baceang ku Patehe jemaq mun ku wah denaraq". Artinya saya mengirim kalian pergi mengaji supaya kelak bisa membaca Al-Fatihah untuk saya ketika saya sudah meninggal. Kata-kata seperti itu seringkali saya dengar.
Setelah lulus kuliah saya mulai membuka diri untuk bergaul, bersosialisasi, berdiskusi, dan mengamati lingkungan sosial di mana saya tumbuh, mulai dari circle terkecil hingga terbesar. Jika diperhatikan mengaji Al-Qur'an di lingkungan saya masih sebatas teks saja. Sanjungan luar biasa sering kali diberikan kepada mereka para penghafal (Tahfiz) namun apakah kita pernah berpikir dalam proses belajar menghafal dan memahami adalah dua proses yang berbeda? Mana yang lebih baik? Saya pikir kita memiliki jawaban berbeda-beda.
Tidak bermaksud mengecilkan seorang Tahfiz sama sekali, saya hanya khawatir bahwa kekuatan sebenarnya umat Islam bukan semata-mata hanya fokus pada hafalan saja melainkan mampu mengurai makna di dalam Al-Qur'an secara kritis kemudian pemahamam tersebut membawa kita menginternalisasi nilai-nilai luar biasa tersebut ke dalam kehidupan vertikal (hablum minallah) maupun horizontal (hablum minannas).
Entah mengapa saya merasa tertinggal karena sejak kecil ketika mengaji Al-Qur’an memang hanya sebatas fokus kepada teknis bacaan saja seperti tajwid, qalqalah dan panjang pendek huruf, tidak masuk ke tataran filosofis yang lebih spesifik membahas makna di balik ayat-ayat tersebut. Harusnya pengenalan isi dan kandungan kitab suci Al-Qur'an bisa diajarkan sejak dini pikir saya. Seperti yang diketahui dalam diskursus peradaban Islam ilmu tafsir memang merupakan media terbaik untuk memahami makna dan kandungan Al-Qur’an dan bisa dibayangkan jika anak-anak usia dini sudah mulai mengenal tafsir Al-Qur'an maka bisa dipastikan ketika dewasa mereka bisa membalikkan keadaan sebagai pemilik peradaban seperti di zaman Khilafah Abbasiyah (750-1517 M) dulu.
Kegelisahan di atas kemudian membawa saya beberapa tahun ini akrab dengan Al-QUR’AN beserta terjemahannya. Saya membaca THE WISDOM, kitab ini disertai tafsir sistematis memudahkan siapa saja memahami isi kandungan Al-Karim yakni akhlak, ibadah, akidah, ibadah, kisah, hingga ilmu. Diterbitkan oleh Al-Mizan, Bandung. Kalau tidak salah penerbit ini milik salah satu cendikiawan Islam terkemuka Haidar Bagir.
Saat membacanya terasa begitu damai dan khidmat, bacaan dan makna terasa bersatu mengalir mengisi alam pikiran, jujur saya tidak lagi merasa terbelenggu terbatas membaca teks Arabnya saja. Sebuah kemajuan progresif. Thanks to God walaupun dalam proses ini saya mungkin tidak mampu seratus persen memahami makna dari setiap ayat-ayatnya namun saya menemukan banyak sekali hal menarik dan bersyukur rasa penasaran terus hadir untuk menggali makna-kandunganya lebih dalam.
Semoga generasi setelah saya bisa memahami Al-Qur'an tidak hanya sebatas membaca secara tekstual saja melainkan mampu kritis memahami isi dan kandungannya melalui ilmu tafsir. Bekal pemahaman tersebut sebagai pedoman untuk memperjuangkan zaman mereka. Amin. "Membaca 10 ayat kalau tidak tidak paham itu tidak sebaik membaca satu ayat tapi paham maknanya. Karena pemahaman makna itulah yang akan membimbing kita menuju kebaikan. Kalau hafal namun tidak paham, bisa jadi pemahaman kita keliru dan akan membimbing kepada kemudharatan." Seperti kata Prof. Quraish Shihab salah satu ahli tafsir terkemuka dunia.
.jpeg)

0 Comments