10 Alasan Mencintai Rumi

Beberapa minggu terakhir di bulan Maret ini saya intens membaca kutipan-kutipan Jalal ad-Din Muhammad Rumi (1207-1273 M) atau yang kita kenal dengan Maulana Jalaludin Rumi. Penyair Sufi Persia yang sangat termasyur, maestro dan par execellence dalam dunia tasawuf dan sastra yang begitu dikagumi dunia. Lahir 30 September, 1207 di Balkh (Afghanistan) yang dahulu dikenal sebagai pusat peradaban Persia. Rumi kemudian melanjutkan pendidikannya di Aleppo, Suriah dan hijrah ke Anatolia, Turki. Menulis beberapa karya besarnya disana seperti Ruba’iyat, Matsnawi-i-Ma’nawi, Fihi Ma Fihi dan lain-lain. Sampai akhirnya dia meninggal pada tahun 1273.

Bersama sahabatnya Rumi mengembangkan Tharikat Maulawiyah atau Jalaliyah yang dalam istilah barat dikenal dengan Nama The Whirling Dervishes (para darwisy yang berputar-putar). Nama itu muncul dari pengikut tharikat ini menari berputar-putar diringi gendang, suling dan dzikir dalam mencapai ekstase. Tarian ini disebut “SAMA.” 

Owlcation.com

Berikut alasan-alasan mengapa kita harus mencintai Rumi berkaca dari perjalanan hidupnya yang sarat akan nilai-nilai kearifan yang sangat luar biasa yang menjadikannya pribadi yang mencintai Tuhan dan kemanusiaan yang segalanya tertuang dalam berbagai maha karyanya.

Pertama, Rumi mewakili tradisi sastra Islam yang sangat luar biasa yang berbeda dengan sastra lainnya. Corak yang digambarkan dalam seni dan sastra Islam yakni bertumpu pada Al-quran, Hadist, Falsafah dan estetika. Kedekatan Islam dengan dunia tasawuf diperlihatkan Rumi dengan menggunakan sastra sebagi media dalam perjalanan spiritualnya.

Kedua, Rumi sangat mencintai kata-kata yang baik yang dilestarikannya dari melalui puisi-puisinya yang indah yang mampu mempersatukan semua orang. Membaca atau mendengar puisi-puisi Rumi dengan diksi yang baik mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih baik. Dapat dikatakan bahwa Rumi dengan kekuatan kata yang dimilikinya mampu membangun hubungan damai antar-manusia.

Ketiga, Rumi dengan sangat rendah…rendah hati mengakui akan kemurahan, kekuasaan dan kearifan Tuhan. Menginspirasi kita untuk mempelajari Islam secara lebih menyeluruh dan mendalam.

Keempat, Rumi begitu memuliakan gurunya dan terbukti telah menjadi pemikir utama dalam segala ajaran moral kehidupan, mampu menyingkap rahasia inti kehidupan esoterik membuatnya mencapai tingkat kebajikan dan kesucian insan. Menyalakan cinta di dalam hati para pencari kebenaran. Rumi sempat membuat iri dan bangga guru-gurunya atas pencapaian spiritual yang dicapainya.

Kelima, Dalam salah satu syair yang ditulisnya, Rumi memantapkan diri untuk (sang Pencerah) dapat mencerahkan pikiran dan hati orang-orang yang berhubungan dengannya. “Segenap keberadaanku telah menjadi seperti dawai kecapi ruhani sejak ujung dawai itu disentuh oleh tangan Tuhannku: Penghalang-penghalang besar telah kusingkirkan, dan dengan demikian Jalan itu menjadi mudah dilalui kawan-kawanku.”

Keenam, Rumi mencintai tarian dan musik, bagi Rumi mereka adalah salah satu cara ekspresi dalam melantunkan puja-puji kepada Tuhan. Terbukti Rumi sering menari, berputar-putar dan berteriak kegirangan tenggelam ke dalam nyanyian.

Ketujuh, Rumi belajar tidak disatu tempat melainkan melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Rumi kerap Traveling ke berbagai negara dan tidak stuck di satu tempat.

Delapan, Rumi mencintai binatang (fauna), pernah dalam suatu perjalanannya Rumi melihat salah satu kawannya menunggangi keledai dan keledai itu mulai meringkik dan kawannya itu memukul kepala tersebut melihat hal itu Rumi menasehatinya dengan berkata: “Jangan memukulinya! Justru bersyukurlah kepada Tuhan bahwa engkau menungganginya dan bukan hewan itu yang menunggangimu.”

Sembilan, kedekatannya kepada Allah sebagai seorang sufi membuat Rumi mengabaikan segala kenyamanan materi dan menekan hasratnya akan kenikmatan duniawi.

Terakhir, Ruimi menekankan kebaikan akan pentingnya kesederhanaan dalam menjalani kehidupan, dia berkata bahwa pohon yang menjulang tinggi ke langit dan membanggakan diri hanya karena ketinggiannya, mungkin tidak berbuah. Sebaliknya batang pohon yang sarat buah batangnya melengkung ke bawah mununjukkan kemuliannya.

Menikmati tulisan Rumi adalah satu cara dalam menemukan spirit-spirit kebaikan yang mampu membawa kita lebih dekat dengan diri kita untuk memahami makna hidup yang sebenarnya.

Asmak Abdurrahman

 

 

Post a Comment

0 Comments