Teh atau kopi? Pertanyaan ini kerap muncul jika ada tamu berkunjung ke rumah. Sepertinya jika diamati sebagian besar tamu laki-laki cenderung meminta kopi hitam atau dalam bahasa Sasak biasa disebut dengan kupi bideng, berbeda dengan tamu perempuan yang lebih memilih disuguhkan teh. Anyway, teh atau kopi tidak perlu dipermasalahkan karena kembali ke selera masing-masing.
![]() |
| Chazhidao Chinese Tea Traditions School |
Saya pribadi menyebut diri saya sebagai penggemar
teh karena jika berkunjung ke suatu tempat makan saya selalu mencari teh entah
itu teh manis hangat, hot lemon tea, ice lycee tea, thai tea,
teh botol dll. Sejak kecil teh terasa familiar dan entah mengapa hati selalu lebih condong
memilih teh. Rasanya teh dan saya memang berjodoh karena rasa memang tidak sanggup berbohong.
Kebiasaan minum teh membuat saya ingin belajar lebih jauh tentang Camelia Sintesis dan Beberapa waktu lalu saya mampir ke salah satu toko buku terkemuka di Mataram, tidak sengaja saya menemukan buku tentang sejarah teh. Tanpa pikir panjang buku ini segera saya amankan. Buku ini ditulis oleh Laura C. Martin dan secara garis besar buku ini membahas tentang asal-usul dan perkembangan teh sebagai minuman terfavorit di dunia. Membaca buku ini membuat saya auto pingin traveling ke berbagai sudut dunia tempat berbagai jenis teh berasal (tapi sayang belum ada rizkinya). Sejarah, legenda, para ahli, upacara, teknis pembuatan teh, lokasi penanaman dan lain-lain secara lengkap terurai dalam buku ini. Untuk kalian yang penasaran belajar tentang teh, saya rasa buku ini bisa menjadi pengantar awal yang baik.
![]() |
| Photo by Goodreads |
Dari buku ini saya menemukan banyak sekali fakta menakjubkan tentang teh di Tiongkok. Mengapa Tiongkok? Jejak sejarah teh mulai dari dinasti Ta'ang, dinasti Ming hingga dinasti Song melahirkan peradaban luar biasa untuk Tiongkok hari ini terutama kekayaan pengetahuan mereka tentang teh. Tidak heran rasanya Shen Nong (leluhur bangsa Tiongkok 3000 SM) dan Lu Yu (ahli teh terkemuka Tiongkok abad ke-8) lahir di tanah Tiongkok.
![]() |
![]() |
| Lu Yu |
Berikut 7 fakta menakjubkan tentang teh di
Tiongkok:
Fakta pertama, teh membawa
pengaruh terhadap keramik Tiongkok. Ketenaran teh terbantu oleh kepopuleran
buku Lu Yu yang berdampak terhadap industri keramik dan tembikar di masa itu.
Para seniman kondang menciptakan banyak keramik rumit untuk menampung teh dan
pada masa dinasti T'ang cangkir atu mangkuk teh disebut "wan" dan dikategorikan
berdasarkan warna lapisannya dan warna tersebut mempengaruhi warna teh yang
telah diseduh.
Fakta kedua, pada era dinasti Song Kaisar Hui Tsung (1101-1125)
sangat berkontribusi pada popularitas teh dan ia banyak menghabiskan waktu dan
kekayaannya untuk menulis, merasakan dan mencari teh terbaik. Ia menulis bahwa
sangatlah penting belajar cara menentukan nilai dari berbagai teh yang sangat
bervariasi tampilannya, layaknya seperti wajah manusia. Dalam bukunya ia
menulis bahwa teh untuk kaisar harus dipetik oleh perawan muda, menggunakan
sarung tangan dan hanya tunas dan daun pertama yang boleh dipetik. Hasil panen
kemudian diletakkan di piringan emas agar mengering di bawah sinar matahari
sebelum teh tersebut diolah. Bahkan makanan perempuan-perempuan muda pemetik
daun teh pun dibatasi. Mereka dilarang memakan jenis-jenis daging dan ikan
tertentu agar kotoran di nafas mereka tidak menodai wangi teh.
Fakta ketiga, menurut buku Tibet Koleksi Sejarah Han dan Tibet (Han zang shi ji) orang-orang Tibet telah meminum teh sejak zaman Tubo (periode zaman dinasti T’ang). Sampai hari ini masih ada sebuah jalan kuno yang dibangun pada zaman dinasti Song yang disebut dengan Jalur Teh dan Karavan Kuda (Tea Horse Road). Di jalur ini para pedagang bepergian di antara Tibet dan daerah Yunnan, Szechuan dan mereka menukar kuda dan teh. Sejarah Tiongkok mencatat sebanyak dua puluh ribu kuda perang dari suku Tibet ditukar dengan the dalam satu tahun dan hamper 15.000.000 kilogram teh yang dihasilkan di Szechuan dibawa ke Tibet dalam setahun.
Fakta keempat, teh paling baik di Tiongkok diproduksi pada abad ke-18 dan ke-19, tidak dijual kepada orang asing dan disimpan untuk kaisar Tiongkok dan anggota kerajaan. Beberapa jenis teh disebut “teh yang dipetik oleh kera,” sebuah nama yang ternyata berawal di abad ke-18. Teh Oolong Ti Kuan Yin yang dipetik oleh kera ditemukan di provinsi Fujian, dan legenda mengatakan bahwa pohon-pohonnya begitu tinggi sehingga para biksu melatih kera untuk memetik daunnya. Teh yang dibuat dari daun-daun ini sangatlah baik sehingga hanya kaisar Qian Long (yang memerintah 1735-1795) dan para bangsawan kerajaan yang diizinkan untuk meminumnya.
Fakta kelima, sekitar abad
ke-4 teh menjadi bagian dari keseharian rakyat Tiongkok. Meski demikian
orang-orang Tiongkok tidak meminum mereka hanya sekedar untuk kesenangan
melainkan terus meminum teh sebagai obat-obatan. Teh yang seduhannya pahit,
digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit termasuk jarak pandang mata yang
buruk, kelelahan, sakit rematik, kelainan kulit (luka dan bisul) dan masalah
ginjal dan paru-paru. Shen Nong menyebut bahwa teh dianggap sebagai bagian
penting dalam dunia farmasi karena teh bisa meringankan rasa sakit yang
disebabkan oleh tumor. Teh bukan hanya sebagai obat bangsa Tiongkok percaya teh
bisa mencegah penyakit dan masalah sosial.
Fakta keenam, teh merupakan
komoditas ekspor tertua dan Tiongkok dan negara pengekspor teh pertama dan
terbesar di dunia. Di akhir kepemimpinan era dinasti Ming (1368-1644 AD)
Inggris mulai membeli teh dari Tiongkok dari Xiamen, provinsi Fujian, provinsi
inilah yang pertama memulai perdagangan teh. Di dalam Bahasa Mandarin “teh” disebut
“cha” dan hanya di wilayah Fujian tidak menyebut teh dengan sebutan “cha”
melainkan tay dan orang Inggris menyebutnya “tea”.
Fakta ketujuh, teh sebagai
media sosial di Tiongkok. Di masa lalu para ilmuan Tiongkok lebih suka berkomunikasi secara bebas dan mendalam dengan teman-teman mereka, dan para pengusaha biasanya melakukan
negosiasi dengan mitra bisnisnya, sambil menikmati segelas teh.
28 Desember 2022






0 Comments