Millenial Kritis Berwawasan Ekologis-Feminis

Kemarau di Lombok Timur

Interaksi manusia dengan alam raya sejak lama telah dibicarakan oleh para filsuf dunia yang tercatat sejak zaman Yunani Kuno sampai hari ini. Hanya saja di masa lalu para filsuf dan nenek moyang kita sangat concern terhadap cara hidup selaras dengan alam tanpa sedikitpun ada rasa rakus untuk mengambil lebih dari yang dibutuhkan.

Jika di lihat lebih dekat isu lingkungan memang sangat kompleks bisa dikatakan permasalahan ini jika dibahas tidak akan ada habis-habisnya. Mulai dari level lokal, nasional sampai dengan tingkat global. Membahas isu lingkungan masih terasa terbatas khususnya di kalangan kaula muda Indonesia. Kehadiran dan kesadaran akan isu ini sepertinya memang belum banyak menarik minat kaum muda. 

Berbanding terbalik dengan fakta hari ini yang membuat kita harus menarik nafas panjang. Menyaksikan berbagai bencana alam seperti banjir, longsor, kemarau panjang, penurunan kualitas air dan tanah, angin kencang hingga ancaman punahnya spesies hewan dan tumbuh-tumbuhan. Eksploitasi dan eksplorasi seolah menjadi hal lumrah pada zaman ini. Manusia sebagai pemegang amanah konservasi tertinggi telah gagal dalam menunaikan tugasnnya. Sepertinya makna Hablum Minal’Alam tidak mampu terinternalisasi secara baik yang sampai pada tataran implikatif.  
  
United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada 2007 mencatat bahwa pemanasan global (Global Warming) sangat berpengaruh pada iklim. Emisi gas rumah kaca mengalami lonjakan 70 persen di antara 1970-2004. Temperature global naik 1, 3 derajat Fareinheit (setara 0,72 derajat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Kenaikan suhu bumi mengakibatkan 262 juta orang menjadi korban bencana iklim dan 98% diantaranya adalah masyarakat di dunia ketiga. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, krisis lingkungan hidup akan membawa petaka bagi umat manusia dan makhluk bumi lainnya, membawa kesengsaraan terutama bagi kaum perempuan karena sejatinya perempuan memainkan role utama  dalam upaya menjaga keberlangsungan hidup dan ketahanan pangan di dalam keluarganya
Dalam buku Staying Alive: Women, Ecology and Development yang ditulis oleh Vandana Shiva, seorang aktivis perempuan terkemuka dunia menulis bahwa alam dan perempuan itu saling bertaut. Hal itu kemudian menjelma menjadi keyakinan masyarakat dunia sampai hari ini.  Dalam kutipannya ia juga menyatakan “We are either going to have a future where woman lead the way to make a peace with the earth or we are not going to have a human future at all”. Seolah  memberi pesan bahwa ruang terdepan dalam upaya penyelamatan bumi harus diberikan kepada perempuan dan jika tidak manusia tidak akan keluar dari jeratan krisis alam.

Vandana Shiva_YFSE doc

Gerakan Ekofeminisme (1974) 

Diperkenalkan pada tahun 1974 oleh seorang feminis berkebangsaan Perancis bernama Francoise d’Eaubonne melalui bukunya yang berjudul “Le Feminisme ou Lamort” ia memaparkan secara gamblang adanya hubungan penindasan terhadap alam dan penindasan terhadap perempuan. Senada dengan gerakan feminime lainnya Ekofeminisme menolak segala bentuk penindasan oleh sistem patriarki, hanya saja Ekofeminisme menawarkan konsep berpikir yang lebih luas tidak hanya relasi hubungan (diri) manusia dan manusia lainnya melainkan juga non- manusia seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan. (Rosemary Putnam Tong, 2006)  

Sejatinya arah gerakan Ekofeminisme ini tidak lain bertujuan untuk terwujudnya sebuah aksi pelestarian lingkungan yang bersumber atas sebuah kesadaran feminisme. Dan diharapkan gerakan menjadi alternatif terbaru dalam usaha mengembalikan kondisi lingkungan hidup.

Maka dari itu diharapkan kita sebagai millennial Indonesia sebagai pemegang amanah konservasi mampu memaknai gerakan Ekofeminisme sebagai landasan berpikir kritis dalam rangka memberikan koreksi, kritisi, solusi dan kontribusi nyata dalam melaksanakan dan memperjuangkan nilai-nilai kecintaan terhadap lingkungan alam. Itulah menjadi bekal kita ke depan menghadapi kelompok-kelompok yang alpa atas kerusakan bumi tercinta. 
 

Post a Comment

0 Comments