Ngaji Online bareng Gus Ulil #kitabIhyaUlumuddin #kajiantematik

Source: Google

Apa yang akan kita lakukan saat merasa stuck atau merasa suasana hati kurang baik? Pertanyaan ini sering kali muncul ketika saya berusaha bertarung melawan pikiran-pikiran negatif terhadap ujian hidup yang kadang-kadang terasa sesak. Managemen emosi, menjaga pikiran tetap sehat tentunya poin utama yang wajib di perhatikan, jika tidak tekanan bisa berubah menjadi stress hingga tidak jarang mengantar seseorang menjadi depresi. Saya percaya salah satu cara menjaga pikiran tetap stabil tentunya dengan beribadah deekat dengan Tuhan kemudian menjadikan hati semakin tenang dan tentram alhasil dalam proses menjalani segala ujian hidup tentunya terasa lebih ringan. 

Penelitian University of Illinois bersama Gallup Organization yang terbit di Journal of Personality and Social Psychology, Agustus 2011 menyebutkan sejumlah peneliti menemukan bahwa agama memberi dukungan emosional ketika kebutuhan mendasar seperti makanan, pekerjaan, rasa aman, dan pendidikan tidak terpenuhi. 

Orang religius cenderung merasa lebih terhormat dan lebih sedikit memiliki perasaan negatif dibanding mereka yang tidak religius. Bisa dikatakan seseorang yang beragama menjalani hidup dengan lebih tenang. Setahun terakhir saya sangat aktif membaca berbagai jurnal kesehatan mental, menonton ratusan video tentang mereka yang mencari jalan untuk bahagia melalui jalur-jalur spiritual yang akhirnya membawa saya fokus dan menemukan beliau, salah satu cendikiawan muslim terkemuka Indonesia, Ulil Abshar Abdalla. 

Di awal tahun 2022 melalui canal Youtubenya Ghazalia College beliau setiap malam Jumat dan Minggu pagi mengulas kitab Ihya Ulummuddin karya Imam Al- Ghazali. Dalam kajian tersebut Gus Ulil mampu memaparkannya secara ringkas dan mudah dimengerti. Jujur saya merasa ngaji online ini membuat saya bersemangat dalam memahami Islam sedikit demi aedikit dan rasanya niat saya untuk nyantri di Jombang ingin segera terwujud. 

Saat kecil jujur saya melihat pondok pesantren sebelah mata dalam pengertian saya pribadi sama sekali tidak tertarik untuk belajar sambil menetap ditambah dengan keterbatasan bertemu dengan orang-orang yang kita cintai terutama orang tua. Di umur 30 tahun setelah mengikuti berbagai program dan bertemu dengan mereka yang memiliki background pesantren (orang-orang NU) membuat saya tergugah untuk ikut merasakan vibe sebagai santri. 

Dalam membuka kajian Ihya Gus Ulil tidak menggunakan metode bandongan seperti yang dilakukan di pesantren pada umumnya beliau memilih menyampaikannya secara bertema menyampaikan pokok-pokok pikiran utama dari Autografi tersebut dan menyampaikannya secara langsung. 

Sekilas Tentang Kitab Ihya Ulumuddin 

Ihya Ulumuddin merupakan catatan perjalanan kehidupan Imam Al-Ghazali semasa hidup. Terkenal sebagai makhluk sosial yang cerdas dan memiliki hubungan dekat dengan penguasa Saljuk, di era Bani Abbasiyah yang saat itu di pimpin oleh Nizamul Muluk. Mereka berhasil membangun Universitas pertama dalam dunia Islam bercirikan 2 mazhab yakni Hanafi dan Syafii. 

Pada fase kehidupannya di umur 30-an Imam Al-Ghazali mengalami disebutkan mengalami krisis spiritual, dugaan beberapa sarjana. Praktek pengetahuan/praktek agama membuatnya kecewa walaupun saat itu Islam berada di era keemasannya. Ulama menjadi struktur kekuasaan politik yang kemudian menjadikan agama sebagai alat memupuk kekayaan.
 
Agama sebagai jalan menuju Allah dengan menghidupkan Rohani manusia kehilangan ruhnya. Kekecewaan terjadi kepada ulama saat itu. Ia kemudian meninggalkan kota Bagdhad dan hijrah menuju Palestina- Syam (Damaskus). Selama 10 tahun Imam Al-Ghazali menjadi sangat reclusive. 
Setelah tahun ke-10 akhirnya ia memutuskan kembali ke Hurosan, Iran bagian Timur dan mendirikan Rifat (Pondok Kecil) karena melihat gejolak sosial yang kurang baik di masyarakat mengharuskannya melakukan koreksi. Beliau kemudian mencoba memperbaiki rohani masyarakat melalui jalur pendidikan.

Kitab Ihya sendiri terbagi menjadi 4 bagian : 
1. Ibadah
2. Muamalah
3. Ahlak-ahlak, sifat yang merusak manusia
4. Obatnya ( dari keburukan di atas). 

Gus Ulil menggambarkan bahwa di dalam kitab Ihya terdapat sekitar 40 kitab di dalamnya semacam Amerika yang memiliki negara-negara bagian. Saya pribadi memang belum membaca kitab Ihya Ulumuddin secara lengkap dan saya pikir ngaji online Ihya secara Tematik ini menjadi awal yang sangat baik sebelum kita membaca secara langsung. Gus Ulil juga terampil dalam berbahasa Arab sehingga saya yakin penjelasan beliau pastilah sangat membantu kita memahami kitab Ihya secara lebih utuh. 

Dalam menit akhir  Gus Ulil menekankan bahwa Imam Al-Ghazali bukanlah orang yang sepatutnya disalahkan atas salah pengertian beberapa pihak yang meninggalkan urusan dunia untuk menuju akhirat malah sebaliknya jalan untuk menuju akhirat tersebut adalah dunia itu sendiri, keduanya harus ballance atau berimbang.

Post a Comment

0 Comments