Semarak Daur Fest 2018: Musik, Sampah & Kita



Entah mengapa kalau diajakin ikutan event atau acara itu rasanya penasaran  banget. Acaranya apa? Siapa aja yang hadir? Siapa yang ngada’in? Semuanya itu muter langsung di kepala. Saya pribadi ngerasa setiap ajakan itu rizki karena rizki tidak selalu dalam bentuk uang sebenarnya, bisa dalam bentuk banyak hal seperti temen baru, ilmu pengetahuan, pemandangan indah, cerita pengalaman bahkan gebetan hahaha (joking). Semuanya harus diterima dalam bentuk rasa syukur karena syukur itu salah satu makanan jiwa membuat kita merasakan bahwa Tuhan selalu di dalam hati. Maaf terkesan seperti ceramah!

Sekitar dua Minggu lalu kakak ngajakin ke acara ini “DAUR FESTIVAL 2018.” Kebetulan dia salah satu panitia inti. Asmak ikut acara Daur ayoo sekalian bisa hunting tulisan, acaranya di Gili Air. Saat itu saya belum jawab iya karena masih sibuk persiapan acara di komunitas lain.” Lihat entar semoga nggak bentrok karena tanggal 10 November “jawab saya datar.” Hari semakin deket ternyata kegiatannya tertunda karena beberapa alasan teknis. Jadi saya mutusin untuk ikut. Fix ikutan!

Acara Daur hari Sabtu jadi jumat malem saya tidur lebih awal biar bisa bangun lebih pagi karena berangkat ke KLU harus fresh, musim hujan pula jadi harus bener-bener fit kondisi tubuh. Apalagi naik motor jadi harus bener-bener melek liat jalan plus bonceng temen pula jadi harus extra fit. Inget lhoo kaloq bonceng temen kita tanggung jawab sama nyawa dia. Jadi harus hati-hati so Jangan ngebut dan ugal-ugalan di jalan! Apalagi lewat jalur Pusuk harus extra hati-hati. Kalau ujan jalannya licin dan rawan longsor di sana jadi demi keselamatan bersama sekali lagi hati-hati berkendara !! (Pesan POLANTAS).

Hari Sabtu datang dan pagi-pagi sudah mulai mandi dan siap-siap sembari menunggu jemputan kawan tersayang. Jam 7 pagi kita sepakat langsung coessssssssssssss! Akhirnya kita berangkat! Sekitar 45 menit di jalan kita sampeq di Bangsal tau-tau kepagian. Celingak-celinguk nggak ada orang yang dikenal. Saya dengan si kawan saling menatap dan nyengir. Alasan kepagian karena boatnya berangkat jam 10. Akhirnya saya mencoba menelpon salah seorang panitia dan dia mengatakan boatnya sudah nunggu di sebelah Timur pelabuhan, sambil membawa barang dagangan kami yang berat terletih-letih mencoba berjalan menuju tempat boat parkir.

Boat Berangkat!

Sekitar dua puluh menit akhirnya nyampeq Gili Air. Turun dari boat langsung nyampeq karena lokasi acaranya deket banget. Kami disambut hangat oleh Tim Daur di sana. Mata saya sudah jelalatan ke sana kemari karena penasaran dengan dekorasi acara yang terlihat warna-warni dominan bernuansa putih dan botol air kemasan di cat warna-warni sedemikian rupa. Rasanya ceria sekali suasana dekat dan hangat amat terasa.



Lanjut! Tentang Daur

Pernah denger  tentang Daur Project? Kebanyakan dari kita pasti udah banyak tau. Saya pikir kaula muda hari ini khususnya di Mataram sudah mulai akrab dengan berbagai komunitas. Sebagian dari kita juga sudah banyak menjadi volunteer untuk komunitas tertentu. Daur merupakan sebuah komunitas yang fokus pada pengembangan kapasitas untuk menghadapi perubahan iklim (climate change) melalui kegiatan daur ulang plastik dengan misi mengurangi polusi sampah plastik. Daur juga menggandeng komunitas lokal di Gili Air dengan tujuan pemderdayaan masyarakat di sana. Intinya gerakan lingkungan concern di sampah plastik.

Mengapa di Gili Air? “Padahal Gili Air sudah maju”

Daur memilih Gili Air untuk pilot project mereka dikarenakan daerah pariwisata jadi untuk memasarkan produk dari sampah plastik dirasa lebih mudah. Jika mereka sudah menguasai pasar Gili otomatis keberlangsungan projek ini terjamin. 

Melalui festival ini Daur melakukan pameran Recycled products yang telah mereka buat dengan memberdayakan Ibu-ibu di Gili Air. Berbagai macam produk dibuat mulai dari piring, botol air minum, tatakan gelas, tas belanja dll. Semuanya bagus-bagus sekalipun dari sampah. Daya tarik utama produk-produk ini berasal dari mereka yang kreatif dan inisiatif untuk mengatasi problem lingkungan (khususnya sampah plastik). Kebayang kalau ada sekitar 100 projek seperti Daur  dan ada 1000 pemuda seperti mas Adit (Daur Founder) ditambah 10.000 relawan. Pasti NTB sudah bebas sampah plastik di tahun-tahun mendatang. 
 
Photo By: Zhee
Photo By: Zhee

Apresiasi sebesar-besarnya kepada Tim Daur yang telah berusaha keras membantu Lombok mengatasi masalah sampah plastik. Semoga kedepan generasi muda NTB bisa berbagi ide-ide cemerlang dan membuat gerakan yang lebih massive untuk kampanye ini. Amin 3x

Daur juga menggandeng komunitas lain yang senada tapi tak sama hehehe seperti Gumi Bamboo, Trash Hero, Bekebon, Origin Natural Body Care, Yayasan Lingkungan Tanpa Batas dan Bale Jukung. Mereka di sediakan stand untuk memajang dan menjual produk-produk mereka. Produk mereka keren banget nggak kalah sama produk lain. Harganya lumayan mahal sih tapi kualitas dan pesan yang mereka bawa dalam ngejual produk ini keren banget semuanya untuk kampanye lingkungan.
 
Gumi Bamboo
Trash Hero
Origin Body Care
Bekebon
Bale Jukung
Yayasan Lingkungan Tanpa Batas

Yang paling menarik perhatian saat Mbak Iwin pemilik Origin Natural Body care menjelaskan salah satu produk mereka yakni Sun Cream dan Sun Block, dengan membeli produk ini turut membantu Suku Dayak tidak menjual tanah mereka kepada pemodal untuk membuka lahan kelapa sawit. Gilaaa keren banget!
 
Mbak Iwin
Tari-tarian, Pembawa Acara dan Musik

Festival tanpa musik itu nggak lengkap seperti pelecing tanpa sambal “kata orang Sasak.” Musik menjadi pemersatu. Lantunan Biola, petikan gitar dan pukulan gendang menambah semangat acara ini. Menampilkan PERKUSI Mataram Daur berhasil menghibur peserta yang hadir. Peserta terlihat larut menghayati setiap nada-nada indah yang dilantunkan. Selain Perkusi Daur juga mengundang dua penari Gandrung. Anak-anak muda cantik dan energik tampil gemulai membuka acara ini. Dipandu Sinta dan Muji acara ini semakin meriah karena suara mereka cetar dan sering melempar jokes kecil yang mengundang tawa peserta.

Muji & Sinta
Biola, Gitar dan Gendang Berpadu

Kemeriahan acara ini tidak lepas dari mereka yang memiliki kontribusi besar terhadap lingkungan! Semoga pesan-pesan mereka berbekas di hati kalian, tidak berhenti dengan selesainya acara ini. Sehingga kita bisa menyadari bahwasanya sampah itu merupakan masalah besar, membutuhkan solusi dan keterlibatan bersama.

Note: Jika kita tidak memiliki solusi untuk masalah ini paling tidak jangan menambah beban dengan membuang sampah plastik sembarangan dan menggunakan plastik secara berlebihan. Seperti tagline Daur “Saat planet menjadi plastik, manusia jadi kisah klasik.” Jangan sampai kita menjadi kisah klasik, itu Ngeri.

Sharing Pendapat!

Menurut kalian, Apa tantangan terbesar dalam menghadapi masalah sampah plastik? Apa langkah konkrit yang bisa dilakukan individu untuk membantu kampanye ini? Bisa share jawaban kalian lewat kolom komen di bawah. #JadiPR


Post a Comment

0 Comments