Diskusi: Ekosistem Sastra Di Kampus


Seberapa sering kalian membaca sebuah karya sastra? Puisi, prosa atau  cerpen misalnya. Saya pribadi sering membaca puisi terutama puisi dari Sapardi Joko Damono salah satu pujangga terkemuka Indonesia. Saat membaca puisi beliau saya merasakan kekuatan kata-kata indah yang sarat dengan pesan-pesan yang begitu kuat mempengaruhi perasaan dan pikiran.

Para Pemateri
Saya sering mendengar kata-kata bahwa “sastra itu berat.” Entah mengapa saya merasa aneh ketika mendengar kata-kata tersebut. Yang berat itu bacaannya atau membacanya? Saya tidak bertanya kembali hanya cukup mendengarkan saja. 

Sastrawan di dalam karya sastranya adalah apa yang ingin diungkapkan sastrawan kepada pembacanya. Selanjutnya, sastrawan dalam menyampaikan idenya tidak bisa dipisahkan dari latar belakang dan lingkungannya (wahyudi). Sehingga dapat disimpulkan bahwa sastra adalah “wujud karya seni yang bermediumkan bahasa.” Tanggapan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat.

Semalam saya mendatangi diskusi singkat bertema “Ekosistem sastra di kampus.” Diskusi ini banyak membahas mengenai atmosfer sastra yang tidak hidup di kampus karena berbagai alasan. Ada yang mengatakan karena minat baca yang rendah di dunia kampus, tidak banyak buku-buku terbaru di perpustakaan kemudian sulitnya wadah atau tempat untuk menampung tulisan-tulisan tersebut. 

Photo Credit: Fadil. S. Gunawan
Berbagai pendapat muncul semalam namun yang paling menarik adalah saat salah satu pemateri mengatakan bahwa yang berusaha menghidupkan dunia literasi itu adalah komunitas-komunitas yang berada di luar kampus yang masih dikatakan kurang karena komunitas hanya sebatas merekrut kader saja. Yaa paling tidak walaupun kurang mereka yang paling nyata. Apresiasi yang tinggi patut diucapkan kepada mereka yang berusaha membangun kecintaan kepada dunia baca khususnya yang ada di Lombok seperti BIAP, Akar Pohon, Taman Baca, EduLand dsb.

Beberapa memberikan solusi bagaimana kemudian menghidupkan atmosfir sastra agar bisa hidup di kampus. Mengatakan bahwa apabila Akademi---- Praktisi bersinergi menguatkan Komunitas maka atmosfir tersebut dapat dihidupkan mengambil contoh di luar daerah. Ada lagi yang mengatakan Sastrawan---Akademisi----Apresiator juga harus bersinergi. Bersinergi caranya bagaimana??? Itu menjadi pertanyaan saya semalam namun tidak ada yang memberikan jawaban jelas & pasti tentang hal ini.

Terlepas dari itu semua semoga niat baik kita semua untuk menghidupkan atmosfir tersebut dapat terlaksana walaupun masih terlihat masih jauh di depan mata.



Post a Comment

1 Comments