Sebagian dari kita seringkali
memberikan pendapat atas sesuatu hal apalagi untuk benda-benda yang memiliki
nilai-nilai estetika, walaupun sebenarnya kita bukan termasuk pelaku atau
penggiat seni. Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan kita anugrah untuk bisa
melihat, menangkap dan merasakan keindahan sesuatu mulai dari komposisi warna,
bentuk, tekstur dan apapun itu yang berkaitan dengan sebuah karya seni. Sama
halnya dengan menikmati keindahan sebuah karya lukis yang kemudian membuat kita
memutuskan untuk membeli dan segera membawa lukisan tersebut untuk dibawa
pulang dipajang di rumah atau di kantor.
| Penghibur Jiwa/ Credit to: Big-Zhee |
Berbicara masalah seni rupa dalam hal
ini lukisan pastilah yang terlintas dikepala kita adalah Vincent Van Gogh dengan
cerita memotong kupingnya untuk membuktikan bahwa lukisannya itu indah,
kemudian Pablo Picasso dengan aliran cubism
yang dianutnya, MOMA (The Museum of
Modern Art) di New York, Joko Pekik dengan lukisan satu milyarnya dan
lainnya.
Semalam saya beserta kawan-kawan
lainnya mengunjungi Pameran lukisan yang bertajuk atau bertema “The Rim of Time” Pameran Lukisan Tiga
Generasi yang dipamerkan di Hotel Santika 17-24 Agustus. Sebelumnya pameran ini
diadakan di Universitas Muhamadiyah Mataram. Dalam pameran ini karya-karya tiga
orang perupa NTB dihadirkan yakni Lalu Agus Faturrahman, Lalu Syaukani, dan Wisnu
Aji Kumara. Tepian waktu adalah pernyataan kesadaran seakan-akan setiap saat
adalah batas akhir yang ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Kesadaran bahwa
generasi terus tumbuh dan hidup pada zamannya dengan tantangan pemikirannya
sendiri. Kesadaran untuk menghadirkan yang terbaik pada akhirnya. Ungkapan
ketiga pelukis sehingga sepakat mengangkat tema ini, yang tertulis di dalam booklet pameran.
Lukisan-lukisan indah tersebut
dipajang di Lobi hotel untuk memudahkan para pengunjung melihatnya. Berbagai lukisan
dengan tema berbeda diperlihatkan dan memberikan kita gambaran tentang realita
kehidupan yang ada seperti apa yang ditulis oleh Sastrawan Budi Darma “Ilmu dan
seni adalah sepasang saudara kembar siam keduanya merupakan abstraksi realita
yang berasal dari kemampuan ilmuan dan seniman dalam menangkap realita hidup
kemudian mentransformasikan ke dalam tulisan atau karya seni mereka.”
Setiap lukisan memiliki pesan
tersendiri tapi yang paling menarik yang saya perhatikan semalam adalah lukisan
dari Lalu Syaukani yang betema “The Lost of
Gold Land” Melalui goresan kuasnya beliau menyampaikan sedemikian rupa
tanah digali, lalu diputar hingga menyisakan kawah yang sangat dalam hanya
tanah milik orang lain menyisakan luka
sedalam kawah yang diciptakan, sepenggal pesan yang disampaikan dari lukisan
tersebut.
| The Lost of Gold Land |
Semoga dengan diadakannya Pameran
lukisan ini mampu memberikan kesadaran kepada kita khususnya kaula muda untuk
lebih mendukung perkembangan dunia seni khususnya seni rupa yang mampu
mengangkat kesenian daerah kita yang sarat dengan nilai-nilai yang mulia yang
bermakna.
Tidak bisa melukis bukanlah alasan kita
tidak bisa menghargai karya seni. Dengan mengunjungi pameran kita bisa melihat berbagai lukisan dengan berbagai tema
yang berbeda dapat memberikan kita pelajaran akan pentingnya memberikan
apresiasi terhadap karya seni walaupun hanya sekedar melihat.
0 Comments