Semarak Menghujat LGBT



Credit to: Troy Carpeton

Beberapa minggu ini topik LGBT kembali ribut terdengar. Setelah beberapa media online memberitakan tentang pesta gay di Surabaya dan penyambukan seorang lelaki di Aceh karena ditemukan sedang melakukan hubungan sesama jenis. Aksi penyambukan tersebut dilakukan dihadapan khalayak ramai layaknya dagelan murahan.

Setelah itu hampir semua orang membahas isu LGBT ini. Termasuk teman-teman dan sahabat  saya yang lain. Berbagai sudut pandang berbeda muncul mulai dari yang pro, kontra, simpati dan tidak peduli. Manusia memang kerap kali dihadapkan pada wacana yang menggelitik untuk di bahas, baik dalam bingkai formal maupun informal dan isu LGBT adalah sebuah fenomena yang senantiasa menarik untuk terus dikaji.

Membicarakan masalah LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender.) Pastilah mengacu kepada orientasi seksual yang kerap dianggap tidak lazim dalam konteks sosial dan agama. Jika kita flashback sedikit perjalanan sejarah. Sejumlah orang telah mengalaminya. Sebagai contoh di zaman kekaisaran Romawi Alexandre The Great atau yang dikenal dengan Alexander Agung (336-272 SM) dibalik kesuksesannya dia adalah seorang biseksual. Pasangan laki-lakinya Bogoas dan Hephaistion yang setia bersamanya.

Dunia hari ini menyaksikan berbagai pesohor dunia secara terbuka mendeklarasikan diri sebagai LGBT. Jim Parsons pemeran serial The Bing Bang Theory menikahi pasangan lelakinya yang bernama Todd Spiewak kemudian Ellen DeGeneres presenter The Ellen Show juga menikahi pasangan perempuannya Portia de Rossi. Mereka sangat terbuka dan berjuang untuk mendapat pengakuan tersebut.

Rentetan sejarah perihal keberadaan LGBT menjadi kajian utama di zaman ini. Lahir dan tumbuh dalam dinamika kerberagaman masyarakat yang sangat rumit yang tidak memandang ideologi, agama, dan negara tempat ia lahir. Sepaham bahwa mereka lahir dari sebuah pengalaman empiris individu yang merasa ada suatu perbedaan terhadap kondisi fisik tubuh dan jiwanya.

Bagaimana dengan Indonesia?

Saya yakin orang-orang yang mengalaminya di Indonesia akan lebih memilih untuk pindah ke negara lain karena tidak akan kuat dengan tekanan sosial di Indonesia karena masyarakat kita terkenal nyinyir. 

Sudut pandang agama menjadi sangat dominan dalam setiap ranah diskusi, semuanya “Haram” titik. Yang mendukung sok kebarat-baratan, tidak beriman, dan alasan mereka sama sekali tidak dibenarkan. Kemudian ada yang simpati dengan berusaha mendoakan untuk kembali ke jalan yang benar agar kembali normal layaknya yang lain.

Yang paling seru adalah mereka yang tidak peduli. Mau gay, mau waria, mau cinta sesama perempuan, legal tidak legal dak urus, urusan saya lebih penting. Selama mereka baik dan tidak mengganggu yang lain saya tidak peduli. Jawaban ini terlihat tidak “fake.” 

LGBT dilihat sebagai dosa yang sangat menjijikkan entah itu orangnya ataupun perbuatannya padahal itu bukan satu-satunya dosa yang kita lihat dalam hidup bermasyarakat. Meninggalkan sholat lima waktu, seks diluar nikah, sering membeli wanita, berjudi, togel dsb. Terlihat semuanya baik-baik saja, menerima itu semua, masyarakat mengetahui itu semua namun mereka tetap bisa berinteraksi secara baik.

Jika LGBT itu abnormal maka standar normal yang disepakati itu seperti apa? Saya sedikit merasa bingung. Seorang kiyai yang menikahi anak dibawah tahun itu juga tidak normal, seorang laki-laki yang memiliki istri lebih dari empat apakah itu normal? dsb. Apakah semangat dalam menentang LGBT sama dengan semangat dosa yang lain hanya karena alasan “tidak normal.”

Saya pernah mendengar seorang teman mengutip kata-kata Pramoedya Ananta Toer “kita harus adil sejak dalam pikiran.”Mungkin ini menjadi pelajaran untuk kita lebih arif dalam memandang sesuatu. Takutnya emosi yang belerlebihan terhadap LGBT mengantarkan kita pada tindakan yang keliru yang semakin membuat kita lupa bagaimana sebenarnya manusia normal itu bertindak karena kita cenderung menyalahkan dan lupa diajak berpikir bagaimana memberikan solusi terbaik untuk bersama. 

Saya pribadi melihat setiap orang berhak memilih orang yang dicintainya dengan cara apapun terlepas itu benar atau salah menurut norma agama, sosial dll. At the end pertanggung jawaban akhir kita masing-masing dihadapan yang Maha Kuasa. Itu alasan mengapa tuhan menciptakan benar dan salah. Tuhan memberikan kita kebebasan memilih dan pilihan itu yang akan mengantarkan kita padanya kelak.

Semoga kedepan kita bisa membahas isu LGBT secara lebih rasional dan adil. Mengedepankan kejujuran dalam menerima berbagai kajian ilmiah terbaru tidak semata-mata ikut-ikutan menghujat dengan cara yang tidak pantas.

Post a Comment

0 Comments