![]() |
| Sumber Photo: Internet |
Sejak beberapa bulan terakhir kita terus
mendengar gaung pemilu khususnya di daerah ibukota Jakarta. Mengapa? Karena
petarung politiknya adalah Anis Rasyid Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama
(ahok). Mereka adalah calon Gubernur yang diusung elit politik tersohor bangsa
ini, etalase Indonesia yakni Jakarta. Sebagai seorang warga negara walaupun
bukan warga Jakarta saya merasa tidak ada salahnya berpartispasi dalam
perjalanan kedewasaan demokrasi selama tidak berlebihan dan berbenturan dengan
nilai-nilai etika berpendapat.
Pemilu kali ini cukup seru karena para
petarung politik di negeri ini melempar berbagai isu empuk untuk mampu
memenangkan para jagoannya. Salah satunya
adalah isu agama. Mengapa? Karena agama adalah isu yang paling empuk
atau strategis untuk menyerang pribadi seseorang dan memudahkan mendapat
simpati berjuta-juta orang dan terbukti ampuh bukti hari ini ahok kalah dalam
Pemilihan Umum Gubernur Jakarta 19 April lalu.
Penyebab Ahok kalah dalam pemilu Jakarta kali
ini jelas karena isu penistaan agama yang dilemparkan kepadanya saat memberikan
kampanye di Kepulauan Seribu. Beberapa hari setelah kejadian itu media
meributkan Ahok yang menyebut-nyebut Al-Maidah 51 tentang larangan memilih pemimpin
kafir. Saya bisa mengerti betapa sulitnya Ahok berusaha mencapai karir politik yang
baik di tengah kondisinya sebagai minoritas.
Saat dia berusaha kembali mencalonkan diri,
kemudian banyak orang mulai menyebut latar belakang dirinya sebagai keturunan
Tionghoa dan seorang non-Muslim. Ahok saat itu bisa jadi merasa kebingungan
bagaimana cara menjelaskan dirinya yang bukan seorang Muslim juga layak
dipilih. Bukannya berhasil menjelaskan itu semua sialnya Ahok disebut sebagai
penista agama. Itulah yang membuatnya di penjara hari ini.
Cerita Ahok hari ini mengingatkan saya pernah
membaca suatu ulasan tentang membusuknya moralitas politik sosial Indoenesia
dalam tulisannya beliau M. Sobary mengatakan bahwa “semaraknya intrik politik
untuk menjegal orang atau partai lain, membuatnya berpikir bahwa kita tak
kunjung belajar dari kepahitan demi kepahitan yang pernah terjadi di masa lalu.
Kekuatan satu pihak membuat kita lupa membangun kebersamaan dengan pihak lain”.
Inilah yang terjadi hari ini!
Saya tidak menyalahkan apapun pilihan rakyat
hari ini entah itu Ahok atau bukan yang menjadi masalah adalah hari ini kita
melihat masyarakat kita semakin jauh dari semangat kebhinekaan, merasa
mayoritas adalah kekuatan penuh tanpa kontrol sehingga mereka buta dan
menghancurkan semangat dan nilai-nilai pluralisme.

4 Comments
Tulisan yang bagus...mari saling jenguk di www.kakjhell.blogspot.com
ReplyDeleteTerima Kasih...Inshaallah kaloq ada waktu saya akan baca tulisanmu
DeleteIni bukan tentang mayoritas dan minoritas, ini tentang keadilan dan ketidakadilan. Hehe kali ini kita berbeda tanggapan ^_^
ReplyDeletekaloq ahok itu mayoritas gak akan kasus ini....
Delete