Memahami Perhajian Dalam Konteks Sosial-Budaya Masyarakat Sasak




Pengetahuan standar tentang ibadah Haji untuk sebagian besar orang pasti pernah didapatkan entah dari mereka yang akan berangkat, sudah pasti berangkat, yang batal berangkat dan yang sudah kembali dari perjalannya ibadah haji tersebut. Berbagai cerita terjadi dalam perjalanan setiap individu yang melaksanakan rukun Islam yang kelima ini. Melaksanakan ibadah yang satu ini merupakan salah satu ibadah yang cukup mahal, berkaitan dengan kemampuan finansial seseorang karena seseorang yang tidak mampu secara finansial praktis dia tidak akan bisa menunaikan ibadah ini.

Ibadah haji yang awalnya hanya bertujuan menyempurnakan rukun Islam kemudian berkembang sebagai sebuah ritual yang yang memepengaruhi kebudayaan lokal dan tidak terkecuali dengan masyarakat Sasak. Pada zaman sekarang kita bisa melihat bahwa haji menjadi sebuah status sosial yang kebanyakan menjadi pengontrol etika para penyandang gelar haji dalam sebagian masyarakat walaupun sebenarnya gelar haji tidak bisa menjadi penjamin bahwa seseorang selalu dalam keadaan bermoral. Buku ini memberikan kita pengetahuan tentang perhajian dalam konteks sosial-budaya masyarakat sasak.

Pada masyarakat Sasak di Lombok, pemaknaan universal nilai-nilai dalam ritual haji tidak bisa dilepaskan dari kontekstualisasi naskah-naskah kuno yang membahas tentang haji. Naskah-naskah tersebut ada yang berbahasa Arab Melayu, Kawi dan adapula terdiri atas tembang-tembang yang mengikuti pola alur penyusunan bait-bait puisi dan prosa sastra Melayu seperti contoh Hikayat Amir Hamzah pada tembang Dangdang bait-bait dari naskah Cilinaya, bait ke 14 berikut ini!

Banjur dateng angin topan gelis, si kesukaq Allah si kuasa
(Tiba-tiba berhembus angin puting beliung, dengan takdir Allah Yang Maha Kuasa)
Bijan Datu Dahan nane, takelepan ye batur, siq anginna no nengka glis
(Putri Raja Daha diterbangkan ke atas oleh angin dengan begitu cepat)
Kaget Datu nyreminang, pada momot ye banjur
(Raja terperanjat menyaksikan, tertegun tak mampu berbuat sesuatu)
Datu Bini, Datu Lanang nyengoq bija
(Permaisuri dan Raja memandang kepergian putrinya)
Ngawang-ngawang Neneq bini
(Melayang-layang sang Putri)
Datu nongaq langit doang
(Raja hanya memandang langit)

Secara langsung atau tidak langsung naskah diatas membahas tentang pemaknaan haji bersamaan dengan kedatangan Islam dari Labuhan Kayangan dan Labuhan Carik kejadian historis yang dimulai sejak awal kedatangan Islam di Lombok pada abad ke-16 dilanjutkan dengan era kemunculan tuan guru pada abad ke-18 M dimana fungsi haji sebagai kesalehan individu sekaligus kesalehan menemukan momentunya.

Pada wilayah sosio-kultural haji kemudian meunjukkan strata sosial dan keagamaan seseorang. Anggapan haji sebagai puncak mistik dalam Islam Sasak yang menyebabkan seorang haji menjadi suci di hadapan masyarakat yang kemudian mendorong orang Islam Sasak untuk menunaikan haji demi naiknya strata sosial dalam keagamaan mereka.

Seorang haji sebagai orang suci tampak pada gelar yang diberikan dari dan untuk masyarakat Sasak terhadap haji tersebut yaitu dengan memangil mereka dengan sebutan Ustadz Haji, Tuan Haji atau Guru Tuan. Pemahaman masyarakat Sasak yang sebelumnya merupakan warisan-warisan spiritualitas agama-agama sebelumnya seperti Boda dan ajaran Lombo' yang sangat menekankan persyaratan pensucian hati terlebih dahulu bagi tokoh Agama dan bisa dicapai melalui ritual ziarah, baik yang sifatnya lahir ataupun batin.

Dengan demikian dalam perspektif sosio-kulturalnya agama selalu terkait dengan lokalitas kultur yang sifatnya relatif dan partikular. Sehingga sebuah kehidupan beragama bisa dipahami melalui 3 dimensi utama, yakni: dimensi moral, dimensi kultural, dan dimensi ultima yang mengacu pada sesuatu hal yang sifatnya absolut, yang membedakan kesadaran kultural dan tindakan-tindakan yang sifatnya religius atau tidak.

Nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji tersebut tidak sekedar membuat Islam  dengan mudah diterima oleh masyarakat Sasak ataupun sekedar mengubah pola pikir dan pola prilaku dalam masyarakat Sasak namun ia mampu mengubah pola stratifikasi sosial dalam masyarakat Sasak tersebut.

Semoga kelak dalam melaksanakan ibadah haji kita bisa menerapkan tujuan nilai-nilai ibadah haji yang sebenarnya!






Post a Comment

1 Comments