![]() | |||||
| Photo Oleh: Sharon Ngoo |
Siapa yang tidak mengenal Tetsuko
Kuroyanagi, apalagi kalian yang berasal dari latar belakang pendidikan keguruan pastilah mengenal tokoh yang satu ini. Lahir
di Nogisaka, Tokyo pada 9 Agustus 1933 seorang aktris Jepang terkenal, aktif sebagai
penulis buku anak terlaris dan pada tahun 1984 Kurunoyagi diangkat menjadi Goodwill Ambassador untuk UNICEF dia
dianggap sebagai salah satu artis jepang pertama yang mendapat pengakuan secara
internasional.
Dalam buku ini dia mengisahkan
perjalanan pendidikan masa kecilnya saat bersekolah di Sekolah Dasar Tomoe Gakuen (Tomoe). Saat masih
kelas 1 SD Toto-Chan di keluarkan dari sekolahnya karena dianggap sebagai murid
yang nakal dan selalu mengacau di kelas. Totto-Chan sering menutup dan membuka
meja belajarnya ratusan kali bahkan sering kali membantingnya dan saat ibunya
bertanya tentang hal itu Totto- Chan menjawab dia sangat menyukai meja itu
karena tutupnya yang bisa di buka ke atas, dia sangat menyukai meja itu karena
melihatnya seperti peti yang bisa menyimpan apa saja di dalamnya. Kalau tidak
membuka tutup meja dia hanya berdiri di depan kelas, di depan jendela agar bisa
memanggil pemusik jalanan dan sering bertanya pada burung wallet, apa yang
sedang kau lakukan? Alasan-alasan itulah yang membuatnya harus keluar dari
sekolah itu.
Mendengar alasan Totto chan di
keluarkan dari sekolahnya membuat saya merasa ada yang salah dengan sekolah itu
karena kita semua tahu bahwa anak tidak pernah salah dalam masa tumbuh kembang
bermainnya hanya saja mungkin Totto-Chan membutuhkan metode khusus dalam
belajar dan itulah tugas seorang guru untuk menemukan metode itu.
Namun meninggalkan sekolah yang lama
membuat Totto-Chan sangat beruntung menemukan Tomoe, sekolah yang menggunakan
enam gerbong kereta sebagai ruang kelas, Toto-Chan sangat menyukainya dan
merasa seperti bermimpi dan bertanya apakah ini kereta sungguhan? Pikirnya
karena bersekolah di gerbong kereta!
Untuk pertama kalinya Totto-Chan
menemui Kepala Sekolahnya, kepala sekolah menyuruh Totto-Chan duduk dan meminta
Totto-Chan menceritakan semua tentang dirinya dan menceritakan apapun yang
ingin dikatakannya. Totto-Chan menceritakan tentang kereta yang ditumpanginya
sangat cepat, diperbolehkan menyimpan satu karcis oleh petugas pengumpul
karcis, tapi tidak dizinkan burung walet, tentang anjingnya yang bernama Rocky
berbulu coklat, memasukkan gunting ke dalam mulutnya hingga gurunya marah
karena lidahnya bisa tergunting, Ibunya memarahinya karena hidungnya meler, dan
tentang papanya yang pandai menyelam dan berenang. Dia terus saja berbicara
hamper empat jam tanpa henti Kepala Sekolahnya hanya mengangguk, tertawa,dan
berkata “lalu”? Dia kemudian kehabisan bahan cerita dan bibirnya terkatup. Yang
terakhir diceritakannya dia suka menyusup di bawah pagar halaman atau merayap
di bawah kawat berduri yang memagari tanah-tanah kosong dan rok yang di buat
ibunya semuanya robek dan saat itu dia mengenakan rok baru yang debelikan
ibunya dan mengatakan bahwa Ibunya tidak menyukai kerah baju yang dikenakannya
hari itu. Setelah itu, Totto-Chan kehabisan cerita sama sekali kemudian Kepala
Sekolah itu berdiri dan berkata “sekarang kau murid sekolah ini.” Kepala
Sekolah itu membuatnya merasa aman, hangat dan senang begitulah perasaan Totto-Chan
terhadap Kepala Sekolahnya, Sosaku Kobayashi pada hari pertama sekolah.
Sistem belajar di Tomoe Gakuen sangat
berbeda dengan sekolahnya yang lama murid-murid diperbolehkan mengubah urutan
pelajaran sesuai keinginan mereka. Belajar bebas dan mandiri setiap murid bebas
berkonsultasi kapanpun dengan gurunya, mereka sudah dizinkan mulai dengan
mempelajari materi yang paling mereka minati. Semua siswa diperbolehkan
melakukan apapun di kelas seperti membaca, menggambar, dan lain-lain sesuai apa
yang sudah di tulis guru, itulah yang membuat sekolah itu sangat menyenangkan,
unik dan menarik. Totto-Chan sangat menyukai Mr. Kobayashi karena dia selalu
mengatakan bahwa Totto-Chan adalah anak yang baik bukan anak nakal yang tidak
patuh.
Saya setuju inilah belajar dalam arti
yang sebenar-benarnya dan itu artinya tidak ada murid yang menganggur dengan
sikap murid yang tidak peduli sementara guru sedang menjelaskan sesuatu. Tomoe
juga tidak membedakan murid-murid yang sehat maupun memiliki keterbatasan fisik,
Mr. Kobayashi mengajarkan bahwa Semua murid di Tomoe sama dan sejajar
kedudukannya tanpa perbedaan sedikitpun.
Saat membaca buku ini saya sempat
menangis karena mendengar janji Penulisnya kepada Mr. Kobayashi sebleum beliau meninggal
dunia, Toto-Chan berjanji suatu hari akan kembali mengajar di Tomoe Gakuen saat
dewasa kelak namun janji itu tidak bisa ia wujudkan karena sekolah itu habis
terbakar saat perang pasifik dimulai.
Sesaat saya berpikir dan mengingat
kembali nilai-nilai pendidikan yang saya terima saat bersekolah di Sekolah
Dasar saya dulu, saya merasa sangat iri kepada Toto-Chan yang memiliki guru
seperti Mr. Kobayashi yang mengajarkannya nilai-nilai dasar moralitas yang
sangat luar biasa yang tidak banyak saya dapatkan saat bersekolah dulu namun
saya cukup bersyukur bisa bersekolah.

0 Comments