| Credit to: Ziadah Ziad |
Sejak
kecil saya tidak terlalu akrab dengan buku. Yang terlihat hanya kesan bosan,
penat, tidak menarik, tidak membahagiakan bahkan membuat kantuk. Sampai akhirnya
saya pergi ke perpustakaan yang baru saja selesai dibangun saat itu. Kemudian
saya masuk dan melihat rak-rak buku besar berdiri tegak. Berbagai macam buku
ada di dalam rak buku tersebut, tentunya buku-buku ringan untuk anak-anak
Sekolah Dasar (SD) waktu itu. Mulai dari buku pelajaran, komik, dongeng, kamus peta
dan lainnya. Saya mengambil tepat satu buku dongeng yang berjudul “BOBO”,
sebenarnya itu bukan buku tepatnya majalah dongeng anak yang saat itu saya
sebut buku karena saya tidak tahu majalah itu apa. Sepulang sekolah saya
menceritakan kepada kakak saya tentang majalah “BOBO” itu, kemudian keesokan
harinya entah darimana dia membawakan saya beberapa majalah dongeng itu. Saya
sangat menyukai warna-warni tulisan dalam majalah itu, melihat gambar-gambar
Nirmala yang berdialog dengan teman-temannya. Hal itu membuat saya pertama kali
mengenal dunia baca dan tertarik untuk membaca lebih banyak lagi. Kemudian kami
membaca bersama dan dia menjelaskan hal-hal yang tidak saya mengerti ketika
membacanya. Membaca buku ini mengingatkan pada memori itu.
Membaca
buku adalah sesuatu yang sangat positif dan membuat otak kita lebih produktif.
Kofi Annan pernah menyatakan “Literacy is
a bridge from misery hope” pernyataan Kofi Annan ini mencerminkan betapa
pentingnya membaca & menulis untuk memperbaiki kehidupan kita yang
patah menjadi lurus, yang buruk menjadi baik, yang terang menjadi gelap dan yang
negative menjadi positif. Membaca adalah jalan terang yang selalu mendekatkan
kita pada kebenaran, itulah kalimat yang paling indah yang pernah saya dengar.
Di
dalam buku ini terdapat frasa ‘DNA Membaca’, saya mulai berfikir mengapa menggunakan
frasa ini. Setelah membaca ternyata karna penemuan ‘gen Bahasa’ yang diakukan
oleh Dr. Anthony Monaco dari Welcome
Trust Centre for Human Genetics dari Universitas Oxford pada Januari 1989
yang berhasil mengungkap gangguan bicara dan berbahasa berkaitan dengan
kromosom ke tujuh yang ada pada manusia.
Peristiwa
penciptaan sistem tulisan menduduki urutan pertama dari 100 peristiwa yang
paling berpengaruh terhadap sejarah dunia, seperti yang ditulis dalam buku 100 Event that Shaped World History,
karya Bill Yene (2005). Dalam buku A
History of God: The 4.000 Years Quest of Judaism, Christianity and Islam
karya Karen Amstrong, terungkap bahwa sejarah pemahaman manusia tentang Tuhan
berawal dari firman yang mewujud jadi kitab suci. Demikian pula pendpata Dryden
dan Voss dalam buku The Learning
Revolution berkesimpulan bahwa komunikasi tulisan sebagai satu tonggak sejarah
manusia.
Para
sejarawan sepakat bahwa peradaban manusia dimulai sejak adanya tulisan. Tulisan abjad
atau huruf merupakan penanda bahasa manusia yang terpenting setelah bunyi dan gambar.
Sebelum mengenal tulisan manusia adalah makhluk pra-sejarah dan Egypt adalah
bangsa pertama yang mengenal budaya tulisan hieroglif, hieroglyph is a written character
that looks like a picture: a character used in hieroglyphics.
Begitu
besar peran buku dan membaca yang telah mengubah sejarah manusia. Orang-orang
besar yang memberi pengaruh kepada dunia tidak lepas dari peran buku dan
aktivitas membaca. Sampai pada hari ini kita bisa melihat orang-orang besar
memiliki buku sebagai karya. Sejak ribuan tahun yang lalu siapa yang tidak
mengenal Aristoteles yang sebagai guru pertama menulis pikirannya dalam
Organum. Al Farabi yang menulis buku Fi
Ihsha al Ulum (tentang perhitungan dan ilmu pengetahuan), Avicena yang
menulis Al Qanun fil Thibb
(peraturan-peraturan kedokteran), Syahruddin Syiurazi (Mulla Sadra), yang menulis
Al Ashfar al Arna’ah fi Hikmah al
Mutaliyah (Empat Perjalanan) dengan pengikut ajarannya yang terkenal
Jamaluddin Al Afgani dan Imam Mushawi Komeini, Abu Hamid Al Ghazali, penulis
buku Al Ihya Ulumuddin (Kitab
Penyucian diri yang masih digunakan orang Muslim dan orang Barat hingga
sekarang.
Membaca
buku dan kejiwaan memiliki hubungan yang erat serta untuk pengembangan
kepribadian. Mengutip pernyataan dalam “The
Pleasure of Reading” bahwa aktivitas membaca merupakan suatu pelesiran
pikiran yang menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa depan. Dan tujuan
membaca diharapkan hendaknya untuk penemuan diri-sendiri, menguasai ilmu pengetahuan
yang berguna, tepat dan bisa diterapkan di dalam kehidupan sehari hari.
Masyarakat
Indonesia sebagian besar tidak menyukai buku, masyarakat kita dominan hidup
dalam budaya lisan menonton. Opini banyak ditentukan oleh kuatnya strategi
komunikasi lisan dan visual daripada dengan bacaan dan lainnya.Mengapa mereka
malas membaca karena membaca membutuhkan enrgi yang besar, konsentrasi, fokus,
daya nalar dan analisis. Sementara most
of masyarakat Indonesia lebih menyukai pikiran yang serba instant, serba
mudah dan jalan pintas (shortcut). Landasan
budaya literal kita sama sekali belum terbentuk sama sekali. Terlihat banyak
sekali perpustakaan masih sepi pengunjung yang perpus hanya digunakan sebagai
gudang buku.
Oleh
karena itu, tidak mudah memalingkan mereka untuk menarik diri dalam pergaulan
dan gaya hidup modern sehingga masuk ke dalam dunia perpustakaan yang sunyi,
penuh perenungan diri, dialog interpersonal, bahkan meditasi intelektual.
Semoga blog ini berguna!
0 Comments