Saat membaca buku ini saya teringat almarhum
kakek saya yang juga bernama Abdurrahman. Berbeda dengan Gus Dur tentunya yang
berasal dari latar belakang pendidikan yang baik dan keluarga terpandang
pendiri organisasi Islam terbesar di negeri ini yakni NU. Berasal dari
keluarga sederhana kakek saya tidak pernah mengecap pendidikan secara formal
karena orang tuanya masih sangat terbelakang secara pemikiran. Namun
berdasarkan cerita yang saya dengar kakek saya sangat rajin dalam belajar ilmu
agama, pecinta binatang dan pandai berdagang alhasil dia menjadi saudagar yang
cukup tenar saat itu.
Pribadi yang terlihat nyeleneh dan lucu
semakin membuat saya terus tertarik untuk mencari tau tentang beliau mulai dari
menonton berita, membaca artikel, menonton videonya di youtube, bisa di katakan
saya salah satu pecinta beliau beruntung orang-orang disekitar saya merasakan
hal yang sama sehingga memudahkan kita untuk berdiskusi santai tentang beliau.
Sejak mengemban kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) pada Desember 1984, retorika
Abdurrahman Wahid tampak terlihat kian bernada liberal progresif. Ia sangat
positif dan fleksible dalam merespon modernitas. Berkaitan dengan sumber-sumber
pemikiran Islam ia secara cerdas mengkombinasikan sintesis yang canggih dari
apa yang baik di dalam nilai-nilai modernitas dan komitmen terhadap
rasionalitas dan keulamaan maupun kebudayaan tradisional. Gus Dur sama sekali
tidak keberatan di cap sebagai ‘progresif’yang dilekatkan dengan pemikirannya.
Komitmen untuk selalu beradaptasi dengan
penerapan sosial nilai-nilai keagamaan untuk secara tepat mempertemukan
kebutuhan-kebutuhan yang berkembang di masayarakat harusnya diingat bahwa
sebenarnya dia sangat konservatif di dalam keyakinan-keyakinan inti
teologisnya, saya sependapat. Gus Dur secara lantang tidak takut di cap
‘liberal’, bahkan ia mengatakan bahwa nilai-nilai inti islam adalah nilai-nilai
“liberal”.
Pemikiran beliau sangat dipengaruhi
berdasarkan riwayat perjalanan pedidikannya, berdasarkan biografi beliau yang
pernah saya baca dulu. Gus Dur lahir di Jombang pada tahun 1940 berasal dari
garis keturunan murni NU (kakeknya adalah tokoh pendiri NU). Pada tahun 1964,
ia berangkat ke Kairo untuk belajar Ma’had Ali Dimsat as-Islamiyah di
lingkungan Universitas al- Azhar yang terkenal. Tetapi dengan teknik ditaktik
utamanya berupa hafalan, ia merasa atmosfir intelektual di Universitas al-
Azhar tidak mendukung semangatnya belajar. Kendati demikian ia memanfatkan
waktunya di sana secara baik. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan
membaca di salah satu perpustakaan terlengkap di kota itu, American University
Library. Walaupun kecewa ia dengan al- Azhar sebagai intitusi, tetapi ia
bahagia dengan kehidupan kosmopolit yang ada di kota itu. Ia aktif mengikuti
kelompok-kelompok diskusi dan bertukar pikiran dengan intelektual muda Mesir
serta mereka yang datang belajar ke Kairo waktu itu. Dari Kairo kemudian ia
pindah ke Bagdad dan belajar selama empat tahun disana, bukan studi keislaman
sebagaimana diharapakan melainkan satra dan kebudayaan Arab plus filsafat Eropa
dan teori social. Menurut pengakuannya, ia sangat senang dengan system
Universitas disana yang dalam banyak hal, jauh lebih mirip dengan Eropa
daripada di al- Azhar. Pada tahun 1971 mengunjungi Eropa dengan harapn Ia bisa
belajar di salah satu Universitas di sana tetapi tidak bisa diwujudkan karena
studinya di Baghdad dan Kairo tidak diakui disana. Kemudian ia memutuskan untuk
kembali ke Indonesia dan menjadi Dekan di Fakultas Usluhudin di Universitas
Hasjim As’jari, Jombang. Sejak pertengahan dasawarsa 70-an ia secara teratur
melakukan kontak dengan beberapa intelektual muslim lainnya seperti Nurcholish
Madjid dan Djohan Effendi. Dari tahun 1980 hingga 1983, ia menjadi nominator
Agha Khan Award untuk arsitektur Islam di Indonesia. Kemudian di tahun 1985-1990
ia berkhidmat di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sejak 1994 ia menjadi penasihat
International
Dialogue Foundation on Perspective Studies of Syari’ah and Seculer Law, di
Den Haag, Belanda.Pendidikan Abdurrahman Wahid adalah perpaduan yang kaya
antara pendidikan Islam tradisional dan pendidikan ‘Barat’ modern. Inilah yang
dapat dikatakan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pemikiran Gus Dur
hari ini, walaupun pendidikan barat dipelajarinya secara otodidak namun unsur
pendidikan barat memang sengaja ditekankan oleh kedua orang tuanya agar bisa
bergaul secara lebih luas dengan berbagai tokoh yang berpengaruh.
Bila melihat tulisan-tulisan Gus Dur yang ada
dalam berbagai artikel-artikel sederhana yang kebanyakan mengenai pesantren.
Karena apabila diperhatikan tulisan-tulisan beliau merefleksikan perhatiannya
terhadap masa depan pengembangan pesantren dan pandangannya yang mengatakan
bahwa pendidikan Islam tradisional dan pendidikan barat modern harus
diintegrasikan secara sempurna dan tuntas di dalam pendidikan pesantren (Baca!
Dinamisasi dan Modrnisasi Pesantren).
Apa yang dibutuhkan, menurutnya adalah suatu
komitmen pencarian jalan tengah tradisi keagamaan yang seimbang dengan
tuntutan-tuntutan praktis yang muncul dalam proses merespon modernitas dan
kebutuhan akan kemajuan. Salah satu kuncinya adalah menempatkan kalangan muda
dalam kepemimpinan (khususnya di dalam pesantren).
Dalam berbagai tulisan dia selalu menekankan
pentingnya reformasi peogresif yang tidak hanya dibutuhkan sekarang, tetapi
menjadi keyakinan bahwa hal tersebut harus menjadi proses yang terus menerus.
Ia banyak menggunakan istilah dinamisasi yang artinya membangkitkan kualitas
progresif yang memungkinkan Islam terus relevan diterima kemudian menyesuaikan.
Tanpa ini semua Islam akan menjadi rumusan doktrinal yang kering dalam hukum.
Jika masyarakat Islam senang dengan dinamisasi, otomatis akan menjadi
masyarakat yang dekat dengan semua warga negara baik muslim ataupun non-muslim,
karena mereka akan menjadi masyarakat yang terbuka terhadap perbedaan.
Keyakinan bahwa Islam menyerukan orang untuk bersikap toleran terhadap orang
lain karena sejatinya seseorang tidak akan bisa menjadi muslim yang baik yang
baik tanpa menunjukkan sikap tulus terhadap semua kalangan dalam masyarakat.
Yang paling menarik dari seorang Gus Dur yang
digambarkan dalam buku ini adalah pemikirannya digambarkan “humanitarianisme
liberal”. Lingkungan, pendidikan, dan keperibadian yang didominasi oleh bentuk
intelegensia yang gemar bermasyarakat semuanya merupakan factor yang menentukan
tetapi tidak semua mampu menjelaskan hasrat dalam pemikirannya.
Gus Dur adalah pemikir keagamaan Islam yang
memberikan tempat terbaik dan terbesar bagi pemikirannya yang disebut sebagai
liberal secara fundamental.
0 Comments